Pada periode yang sama, rugi bersih perseroan menyusut 23,2 persen menjadi USD113 juta. Sementara itu, laba sebelum bunga dan pajak atau EBIT meningkat 12,7 persen menjadi USD74 juta.
Perbaikan kinerja tersebut berlangsung di tengah tekanan biaya operasional. Beban avtur Garuda Indonesia Group tercatat meningkat 43,6 persen pada semester I 2026.
Dari sisi operasional, Garuda Indonesia Group mengoperasikan 104 pesawat hingga akhir Juni 2026. Ketersediaan armada tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam upaya meningkatkan kapasitas penerbangan, frekuensi perjalanan, serta pendapatan perusahaan.
Selain mengganti Direktur Utama, RUPSLB juga melakukan penyegaran pada jajaran direksi dan komisaris Garuda Indonesia. Berikut jajaran pengurus perseroan berdasarkan hasil RUPSLB, Kamis (8/10/2026):
Susunan direksi sebelum RUPSLB
- Direktur Utama: Glenny H. Kairupan
- Wakil Direktur Utama: Thomas Sugiarto Oentoro
- Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko: Balagopal Kunduvara
- Direktur Operasi: Dani Haikal Iriawan
- Direktur Teknik sekaligus Plt. Direktur Niaga: Mukhtaris
- Direktur Human Capital & Corporate Service: Frans Dicky Tamara
- Direktur Transformasi: Neil Raymond Mills
Susunan direksi setelah RUPSLB
- Direktur Utama: Thomas Sugiarto Oentoro
- Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko: Balagopal Kunduvara
- Direktur Operasi: Eric Ferdinand Sofyal
- Direktur Teknik: Mukhtaris
- Direktur Komersial: Alan McIntyre
- Direktur Human Capital & Corporate Service: Dina Sandri Fani
- Direktur Transformasi: Neil Raymond Mills
Susunan dewan komisaris setelah RUPSLB
- Komisaris Utama: Glenny H. Kairupan
- Komisaris: Sugito Anjasmoro
- Komisaris: Chairal Tanjung
- Komisaris Independen: Mawardi Yahya
- Komisaris Independen: Jaan Albrecht
- Komisaris Independen: Trey Urbahn.
(Febrina Ratna Iskana)