sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Emas Masih Menarik di Tengah Gejolak Pasar, Intip Prospek Harganya

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
26/10/2026 11:24 WIB
Emas dinilai layak menjadi penyeimbang portofolio investor di tengah gejolak pasar saham Indonesia.
Emas Masih Menarik di Tengah Gejolak Pasar, Intip Prospek Harganya. (Foto: Pexels)
Emas Masih Menarik di Tengah Gejolak Pasar, Intip Prospek Harganya. (Foto: Pexels)

IDXChannel - Emas dinilai layak menjadi penyeimbang portofolio investor di tengah gejolak pasar saham Indonesia.

Di saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan menyusul rencana MSCI mengkaji penurunan status pasar Indonesia, harga emas dinilai masih memiliki ruang penguatan hingga 2027.

Analis Mirae Asset Sekuritas, Fauzan Luthfi Djamal, dalam riset pada 23 Oktober 2026, menilai prospek emas tetap konstruktif dalam 12 bulan ke depan.

Mirae mempertahankan proyeksi harga emas di kisaran USD4.500-4.800 per troy ons, dengan dukungan pembelian bank sentral, keterbatasan pasokan tambang, dan permintaan aset lindung nilai.

MSCI membuka konsultasi pada 15 Oktober 2026 terkait kemungkinan perubahan klasifikasi Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market). Keputusan akhir dijadwalkan pada akhir Juni 2027.

Sentimen tersebut menekan pasar saham domestik. IHSG turun tajam 11,6 persen pada 16 Oktober dan kembali turun 3,6 persen pada 19 Oktober hingga ditutup di level 4.996, atau sekitar 42 persen di bawah posisi akhir 2025.

Di tengah tekanan tersebut, harga emas batangan Antam ukuran 1 gram tercatat naik 2 persen sepanjang tahun berjalan menjadi Rp2.550.000 per 22 Oktober 2026.

Namun, kenaikan itu belum mampu mengimbangi pelemahan rupiah sebesar 7,8 persen terhadap dolar AS ke level Rp18.050 per USD.

Menurut Fauzan, kondisi tersebut memperkuat alasan bagi investor untuk mempertimbangkan alokasi emas sebagai pelengkap investasi saham Indonesia.

Salah satu alternatifnya adalah reksa dana yang diperdagangkan di bursa atau exchange-traded fund (ETF) emas, yang dapat dibeli melalui rekening efek yang sama dengan saham.

Prospek harga emas masih terbuka

Harga emas dunia berada di sekitar USD4.180 per troy ons, sekitar 23 persen di bawah rekor tertinggi USD5.417 per troy ons pada 28 Januari 2026.

Meski terkoreksi dari puncaknya, proyeksi pasar masih menunjukkan ruang penguatan.

Rata-rata proyeksi harga emas berada di sekitar USD4.545 per troy ons pada 2026 dan USD4.788 pada 2027.

Sementara itu, median konsensus pasar pada Oktober masing-masing mencapai USD4.500 dan USD4.650 per troy ons.

Angka tersebut mengindikasikan potensi kenaikan sekitar 8 persen hingga 11 persen dari harga saat ini.

Ekspektasi permintaan musiman pada awal 2027 juga dinilai dapat menopang harga, dengan area USD4.000 per troy ons menjadi level penting untuk diperhatikan.

Dalam skenario pesimistis, Mirae memperkirakan harga emas berada di kisaran USD3.800-4.100 per troy ons.

Dengan harga saat ini yang masih berada di atas rentang tersebut, proyeksi dasar dalam 12 bulan ke depan dinilai tetap terjaga.

Untuk jangka panjang, proyeksi harga memang cenderung melandai setelah 2027, menuju kisaran USD4.000-4.200 per troy ons pada 2029.

Namun, asumsi harga emas dalam dokumen perusahaan untuk periode 2031-2035 berada di sekitar USD4.350 per troy ons.

Bahkan, asumsi konservatif harga emas yang digunakan dalam valuasi perusahaan tambang, yakni USD3.000-3.750 per troy ons, masih dua hingga dua setengah kali lipat dari rata-rata harga emas pada 2015-2023 yang sekitar USD1.500 per troy ons.

Mirae menilai keterbatasan pasokan tambang, pembelian berkelanjutan oleh bank sentral, dan risiko fiskal menjadi sejumlah faktor yang menopang level harga emas dalam jangka panjang.

Karena itu, investor dinilai dapat membangun alokasi emas secara bertahap sebagai bagian dari strategi investasi jangka panjang.

Imbal hasil obligasi dan dolar AS menjadi risiko

Meski prospeknya masih konstruktif, emas tetap menghadapi tekanan dari kenaikan imbal hasil riil obligasi pemerintah AS dan penguatan dolar AS.

Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun tercatat sebesar 5,24 persen, sedangkan indeks dolar AS (DXY) berada di level 102,2. Keduanya mendekati level tertinggi dalam 12 bulan.

Imbal hasil yang telah disesuaikan dengan inflasi juga meningkat menjadi 2,72 persen dari 1,68 persen.

Kenaikan imbal hasil riil meningkatkan daya tarik aset berbunga dan dapat mengurangi minat investor terhadap emas yang tidak memberikan imbal hasil rutin.

Namun, harga emas relatif bertahan di tengah tekanan tersebut, salah satunya berkat pembelian bank sentral.

Bank sentral membeli sekitar 39 ton emas pada Agustus 2026, sementara Bank Sentral China (PBOC) melanjutkan pembelian selama 22 bulan berturut-turut.

Mirae mengidentifikasi periode berkepanjangan dengan imbal hasil riil tinggi sebagai risiko utama bagi harga emas.

Risiko lainnya mencakup penguatan dolar AS hingga DXY mencapai 108, kemungkinan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang mengurangi permintaan aset aman, serta perlambatan pembelian oleh bank sentral.

Bagi investor berbasis rupiah, penguatan mata uang domestik juga dapat mengurangi imbal hasil investasi emas yang dihargai dalam dolar AS.

Risiko ini akan semakin relevan apabila tekanan jual terhadap aset Indonesia terkait evaluasi MSCI mereda.

ETF emas menawarkan biaya transaksi lebih rendah

Selain prospek harga, Mirae menyoroti ETF emas sebagai alternatif investasi yang lebih efisien dari sisi biaya transaksi.

Lima ETF emas syariah tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 Agustus 2026, disusul dua produk lainnya pada September.

Produk tersebut memberikan eksposur terhadap emas elektronik Pegadaian yang didukung emas batangan berkadar 99,99 persen sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI).

Investor dapat mengaksesnya melalui rekening efek yang sama dengan rekening untuk bertransaksi saham.

Menurut perhitungan Mirae, biaya transaksi beli dan jual ETF emas sekitar 0,3 persen. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan biaya transaksi pulang-pergi sekitar 6 persen untuk emas Antam ukuran 1 gram, 10 persen untuk ukuran 0,5 gram, dan 5 persen untuk Tabungan Emas.

Dengan asumsi biaya tahunan ETF sebesar 0,75 persen, akumulasi biaya diperkirakan membutuhkan sekitar delapan tahun untuk menyamai biaya transaksi pulang-pergi emas Antam ukuran 1 gram.

Meski demikian, investor perlu memperhatikan harga ETF terhadap nilai aktiva bersih atau net asset value (NAV).

Setelah pencatatan, harga sejumlah ETF sempat diperdagangkan hingga 29 persen di atas NAV. Per 19 Oktober, enam dari tujuh ETF tersebut telah diperdagangkan dalam rentang 3 persen dari NAV.

Likuiditas perdagangan yang masih tipis, kajian mengenai perlakuan pajak oleh Direktorat Jenderal Pajak, serta belum tersedianya konversi ke emas fisik juga menjadi sejumlah keterbatasan.

Karena itu, Mirae menilai ETF emas dapat menjadi pilihan praktis bagi investor saham yang ingin membangun alokasi emas, dengan catatan menggunakan limit order dan memantau selisih harga pasar terhadap NAV agar tidak membeli pada harga premium yang terlalu tinggi. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Advertisement
Advertisement