“Kami menyerap sekitar 20–30 persen dari total kebutuhan susu. Penyerapan ini sudah cukup maksimal karena pasokan susu segar di Indonesia masih sangat terbatas. Untuk memenuhi kebutuhan lainnya, kami masih menggunakan susu bubuk impor,” katanya.
Dorongan pengembangan industri pengolahan susu juga sejalan dengan kinerja positif industri makanan dan minuman nasional. Kementerian Perindustrian mencatat subsektor tersebut tumbuh 6,77 persen pada semester I-2026 dan berkontribusi 41,86 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas.
Dari sisi investasi, industri makanan dan minuman mencatat realisasi Rp47,74 triliun pada semester I-2026. Nilai tersebut terdiri atas penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp19,46 triliun dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp28,28 triliun.
Sebelumnya, Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mendorong Cimory mengembangkan lebih banyak produk turunan susu, seperti es krim dan keju khas Indonesia. Menurut dia, diversifikasi produk, peningkatan penggunaan bahan baku lokal, dan optimalisasi kapasitas produksi penting untuk memperkuat daya saing industri pengolahan susu nasional.
(Rahmat Fiansyah)