IDXChannel – Bursa saham Asia yang didominasi emiten teknologi tertekan tajam pada Jumat (6/11/2026).
Kekhawatiran terhadap meningkatnya pengawasan regulasi dan perlambatan pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) memicu aksi jual besar-besaran, menyusul kejatuhan saham Amerika Serikat (AS) yang menjadi penurunan terdalam sejak gejolak pasar akibat kebijakan tarif pada April 2025.
Indeks KOSPI Korea Selatan anjlok lebih dari 8 persen hingga memicu penghentian sementara perdagangan selama 20 menit melalui mekanisme circuit breaker.
Sementara itu, indeks Nikkei Jepang terkoreksi 6 persen.
Tekanan juga melanda bursa Asia lainnya. Shanghai Composite turun 1,48 persen, Hang Seng Hong Kong melemah 1,06 persen, ASX 200 Australia terkoreksi 0,89 persen, sedangkan STI Singapura turun 2,16 persen.
Di Wall Street, indeks volatilitas pasar atau yang dikenal sebagai fear gauge melonjak.
Nasdaq terperosok 5,5 persen, sementara kapitalisasi pasar perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 menyusut hingga USD3 triliun.
Investor mencermati potensi perubahan arah kebijakan setelah Partai Demokrat meraih kemenangan besar dalam pemilihan paruh waktu (midterm elections) pekan ini.
Kemenangan tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa pemerintahan dan parlemen AS akan memperketat pengawasan terhadap industri AI dan membatasi ekspansi sektor tersebut.
Ketidakpastian politik itu datang ketika perdagangan saham berbasis AI memang tengah menghadapi tekanan.
Investor mulai mempertanyakan tingkat pengembalian investasi dari belanja besar-besaran yang digelontorkan perusahaan untuk mengembangkan teknologi tersebut.
Pelaku pasar menilai produsen semikonduktor dan pemasok peralatan pusat data di Korea Selatan, Taiwan, dan Jepang menjadi kelompok yang paling rentan.
Saham-saham sektor tersebut bahkan telah mengalami tekanan pada perdagangan Rabu dan Kamis.
"Jelas terlihat telah terjadi perubahan sentimen yang cukup besar," kata Michael McCarthy, Chief Executive Officer Moomoo untuk Australia dan Selandia Baru, seperti dikutip Reuters.
Menurut dia, titik balik pasar biasanya ditandai dengan perbedaan pandangan investor yang tajam dan tercermin dari pergerakan harga yang sangat fluktuatif.
"Hal itulah yang tampaknya terjadi saat ini. Aksi jual besar-besaran pada perdagangan semalam menunjukkan arah pergerakan pasar yang mulai berubah," ujarnya.
Tekanan jual juga mengindikasikan investor mulai memperhitungkan meningkatnya penolakan masyarakat terhadap pembangunan pusat data.
Sejumlah analis menilai pasar belum sepenuhnya memperhitungkan besarnya biaya sosial dan dampak pembangunan fasilitas tersebut terhadap masyarakat sekitar.
Indeks Philadelphia Semiconductor anjlok 12,2 persen pada perdagangan semalam.
Sementara itu, Nasdaq, yang sempat bergerak menguat setelah hasil pemilu paruh waktu diumumkan sebelum akhirnya berbalik melemah, kini telah terkoreksi 12 persen dari rekor penutupan tertingginya sebulan lalu.
Di pasar keuangan lainnya, obligasi pemerintah AS atau US Treasury berpotensi menguat di tengah meningkatnya minat terhadap aset yang lebih aman.
Dolar AS juga melemah terhadap mata uang lindung nilai (safe haven), seperti yen Jepang dan franc Swiss.
"US Treasury kemungkinan masih memiliki ruang penguatan yang cukup besar. Saya juga memperkirakan saham semikonduktor dan memori akan mengalami hari perdagangan yang buruk," kata Chief Investment Officer Vantage Point Asset Management di Singapura, Nick Ferres. (Aldo Fernando)