Dalam sajian manual brew, profil rasanya antara lain digambarkan memiliki aroma brown sugar, rasa manis seperti anggur, serta sentuhan buah seperti peach.
Perubahan itu menunjukkan bahwa perjalanan kopi tidak berhenti ketika buah dipetik dari pohonnya. Varietas, proses setelah panen, hingga cara kopi diolah dapat ikut membentuk karakter yang akhirnya dirasakan ketika kopi diseduh.
Yang juga berubah adalah nilai ekonominya. Jika sebelumnya hasil kebun keluarga hanya dijual sebagai ceri sekitar Rp7.000 per kilogram, proses pengolahan membuat kopi tersebut bisa dikembangkan menjadi produk dengan nilai tambah.
Kolaborasi Roby dan Rumah Koffie bukan hanya memperluas pasar, tetapi juga mempertemukan proses di tingkat kebun dengan pengolahan dan penyajian di kedai. Kopi yang sebelumnya berakhir sebagai ceri hasil panen kemudian bisa dinikmati dalam bentuk roasted beans maupun minuman dengan karakter rasa yang lebih spesifik.
(Nadya Kurnia)