Selembar kain yang dahulu dianggap sebagai hasil kegiatan untuk menyalurkan emosi telah menjelma menjadi sumber penghidupan. Batik Kinasih pun mengembangkan produknya menjadi tas, mukena, sajadah, hingga sarung.
Sejumlah individu yang didampingi bahkan mulai memiliki usaha sendiri. Tiga orang dengan sindrom Down, misalnya, telah mengembangkan merek batik dengan bantuan keluarga.
“Ada tiga teman dengan sindrom Down yang dengan bantuan keluarganya sudah mempunyai jenama sendiri,” ungkap Dwi.
Kesempatan kembali datang melalui layar sebuah tautan di media sosial yang mengajak untuk ikut kurasi Product Placement Pilihan Busan. Program inisiatif Menteri Perdagangan Budi Santoso ini ditujukan untuk membantu promosi produk UMKM.
Ketidaktahuan itu tak menghalangi rasa ingin mencoba. Batik Kinasih mengikuti proses kurasi dengan harapan agar karya para penyandang disabilitas dari Blitar makin dikenal.