Mereka memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang mampu mencipratkan warna tetapi kesulitan menyelesaikan proses berikutnya. Ada yang gemar mewarnai, sementara yang lain lebih mampu membantu mencuci kain. Di Batik Kinasih, setiap kemampuan mendapat tempat.
“Teman (yang) itu bisa menciprat, hanya menciprat saja. Kalau yang suka mewarnai, hanya mewarnai saja. Kemudian, yang bisa mencuci, hanya mencuci saja, itu yang mereka bisa lakukan. Selalu dengan pendampingan,” kata Dwi dalam laman resmi Kemendag (22/10/2026).
Sebelum pandemi Covid-19, para penyandang disabilitas ini berkumpul dan membatik bersama untuk sekadar berekspresi. Namun, muncul persoalan lain setelah berhasil membuat produk.
“Mereka bisa membuat tapi tidak bisa menjual. Maka, kami membuat sebuah perkumpulan untuk menjualkan. Tujuannya, agar mereka mandiri secara ekonomi dan mandiri secara sosial,” tutur Dwi.
Dari perkumpulan itulah, perlahan tumbuh sebuah usaha. Produk diterima masyarakat, pembeli berdatangan, bahkan Organisasi Perangkat Daerah di Kabupaten Blitar turut menggunakannya.