“Saya khawatir mengenai keselamatan mereka jika membatik. Akhirnya saya arahkan untuk membuat produk turunan. Jadi, kain batik dari tim anak muda di Desa Bayat ini dijahit dan diolah menjadi produk turunan oleh kawan-kawan disabilitas yang kita latih,” jelas Gina.
Langkah ini melahirkan kolaborasi inklusif yang berfokus pada tahap penjahitan dan kriya lanjutan. Melalui wadah Voice of Voiceless (VoV), komunitas inklusif yang diinisiasi atas kerja sama lintas agama dan nilai kemanusiaan bersama Lembaga Daya Dharma, kawan-kawan disabilitas mendapatkan pelatihan vokasional secara intensif.
Bagi Gina, pelatihan vokasional tidak akan berdampak nyata tanpa adanya kepastian lapangan kerja yang berkelanjutan. Meskipun jumlah kawan disabilitas yang terlibat secara rutin saat ini masih terbatas, penekanan utama diberikan pada standar kualitas dan presisi jahitan agar produk yang dihasilkan mampu bersaing di pasar fashion nasional.
“Kalau mereka hanya dilatih tanpa diberi lapangan pekerjaan, tentu akan percuma. Karena itu, kami berpikir bagaimana caranya agar hasil pelatihan awal bisa langsung diserap dan membuka lapangan kerja yang berkelanjutan untuk mereka,” pungkasnya.
(Nadya Kurnia)