
“Komunitas anak muda ini kita latih untuk pewarnaan dan pembuatan cap menggunakan karton-karton bekas sereal, lalu dibuat ke dalam motif-motif yang lebih dinamis. Contohnya motif catur, seri game seperti PlayStation, hingga Mahjong yang lagi tren,” tutur Gina.
Melalui inovasi ini, Gina berambisi mengubah pola pikir generasi muda terhadap batik. Batik tak lagi dipandang sebagai sesuatu yang kuno, melainkan busana dinamis yang fleksibel dikenakan sesuai selera zaman.
Menurutnya, regenerasi batik bukan hanya soal motif, melainkan bagaimana anak muda terlibat langsung dan mengeksplorasi proses pembuatannya.
“Harapan saya, dengan inovasi warna ini, anak-anak muda bisa lebih menerima dan mau memakai batik,” ungkapnya.
Tidak berhenti pada kolaborasi lintas generasi, ekosistem Batik Tembayat semakin lengkap dengan hadirnya sentuhan kawan-kawan disabilitas. Gina membina para penyandang disabilitas, khususnya tunarungu, bukan pada proses membatik yang berisiko karena berhubungan dengan api, melainkan pada pembuatan produk turunan batik seperti jahitan, tas, dan ragam kriya (handicraft).