Di sisi eksternal, Rully memperkirakan Federal Reserve akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September. Kenaikan tersebut dinilai relatif telah diperhitungkan oleh pasar.
“Kenaikan 25 basis poin dari The Fed relatif sudah priced in. Bagi Indonesia, perhatian berikutnya akan tertuju pada pergerakan rupiah karena menjadi salah satu faktor utama yang menentukan ruang dan respons kebijakan Bank Indonesia,” kata Rully.
Menurut dia, penguatan rupiah saat ini masih ditopang kondisi eksternal yang lebih kondusif serta capital inflows. Namun, keberlanjutan penguatan tersebut tetap bergantung pada kesinambungan arus dana masuk.
Sementara di pasar Surat Berharga Negara (SBN), koordinasi kebijakan dinilai penting untuk menjaga kenaikan yield tetap berlangsung secara gradual. Perubahan persepsi investor terhadap kredibilitas kebijakan maupun peringkat Indonesia menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan.
“Yang perlu diwaspadai adalah apabila terjadi perubahan persepsi terhadap kredibilitas kebijakan atau rating, karena itu bisa menghasilkan repricing yang lebih tajam,” jelas Rully.