VP of Marketing Rumah123 Firman Pamungkas menyampaikan, ketimpangan pertumbuhan antarkota menunjukkan bahwa rata-rata nasional tidak cukup untuk memahami kondisi pasar properti secara utuh.
“Pasar properti Indonesia tidak bergerak serempak. Minat pencarian, harga, serta pasokan dapat bergerak berbeda di setiap kota. Jakarta Pusat yang memimpin pertumbuhan perhatian pencari properti menunjukkan kuatnya nilai lokasi di area inti, sementara pertumbuhan harga tertinggi di Makassar, Medan, dan Denpasar menunjukkan bahwa fundamental pasar lokal tetap menjadi penggerak utama,” ujar Firman.
Pada Agustus 2026, sebanyak 11 dari 13 kota dalam indeks masih mencatat kenaikan harga secara tahunan. Namun, secara bulanan, delapan dari 13 kota mengalami penurunan harga.
Kondisi tersebut menunjukkan pasar rumah sekunder tengah memasuki fase normalisasi. Harga tidak turun secara serentak, tetapi pertumbuhannya tidak lagi merata dan sangat dipengaruhi oleh kondisi lokal.
Konteks keterjangkauan juga menjadi penting. Dengan inflasi tahunan sebesar 3,2 persen, pertumbuhan harga rumah sekunder nasional sebesar 0,8 persen masih berada 2,4 poin persentase dibawah kenaikan biaya hidup.