“Pencari properti saat ini semakin menghitung nilai waktu. Mereka tidak hanya bertanya apakah harga rumahnya sesuai kemampuan, tetapi juga apakah lokasi tersebut membuat rutinitas sehari-hari lebih efisien. Waktu tempuh, akses terhadap tempat kerja dan fasilitas keluarga, serta biaya mobilitas menjadi pertimbangan yang makin nyata dalam proses memilih hunian,” ujarnya dalam pernyataan resmi, Sabtu (19/9/2026).
Pada pergerakan bulanan, arah minat pencari properti terlihat lebih beragam. Bogor mencatat kenaikan proporsi popularitas terbesar di Jabodetabek, sebesar 0,2 persen, disusul Jakarta Barat dan Bekasi yang masing-masing naik 0,1 persen.
Sementara itu, penurunan proporsi popularitas bulanan terbesar terjadi di Bandung Barat sebesar 0,7 persen, Denpasar sebesar 0,6 persen, dan Karawang sebesar 0,4 persen.
Menurut Marisa, data tersebut tidak berarti kawasan penyangga kehilangan daya tarik secara menyeluruh. Pergerakan Bogor dan Bekasi menunjukkan bahwa wilayah penyangga dengan keseimbangan antara akses, fasilitas, dan harga masih menarik perhatian pencari properti.
Namun, konsumen kini semakin membedakan kawasan yang dapat mendukung kualitas hidup sehari-hari dengan kawasan yang membutuhkan kompromi perjalanan lebih besar.