“Perluasan akses pasar harus berjalan dua arah. Indonesia terbuka terhadap produk Cili yang memenuhi ketentuan yang berlaku. Pada saat yang sama, kami juga mendorong makin banyak produk Indonesia, khususnya produk bernilai tambah, memperoleh peluang yang lebih besar di pasar Cili,” kata Roro.
Untuk memperkokoh jejaring bisnis antar-pelaku usaha, Indonesia mendorong partisipasi aktif pemerintah dan dunia usaha Cili dalam agenda Indonesia–Latin America and the Caribbean (INA-LAC) Business Mission 2026 di Santiago pada 1-2 Oktober 2026, serta pameran dagang Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Tangerang, Banten pada 14-18 Oktober 2026. Kedua forum tersebut diharapkan dapat mempertemukan para pelaku usaha dari kedua negara.
Salah satu produk Cili yang telah memanfaatkan fasilitas preferensi tarif nol persen IC-CEPA adalah anggur segar, di mana impor Indonesia dari Cili pada 2025 mencapai USD6,97 juta dengan volume sebesar 1.887 ton.
Secara keseluruhan, total nilai perdagangan Indonesia–Cili pada 2025 tercatat sebesar USD534,9 juta, atau tumbuh 12,26 persen dibandingkan realisasi 2024. Ekspor Indonesia tercatat sebesar USD440,8 juta dan impor sebesar USD94 juta, sehingga Indonesia membukukan surplus perdagangan senilai USD346,8 juta. Sepanjang periode 2021–2025, total perdagangan kedua negara tumbuh rata-rata 2,56 persen per tahun.
Tren positif ini berlanjut pada periode Januari-Juni 2026, di mana total perdagangan bilateral mencapai USD277,4 juta. Ekspor Indonesia tercatat USD219,8 juta berbanding impor sebesar USD57,6 juta, yang menghasilkan surplus neraca dagang bagi Indonesia sebesar USD162,2 juta.