IDXChannel - Kesenjangan pembiayaan masih dialami pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan pengusaha yang sedang berkembang.
Mereka disebut masih kesulitan mengakses pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan. Kesenjangan pembiayaan bagi usaha yang membutuhkan modal USD100.000 hingga USD2 juta, diklaim mencapai USD50,8 miliar per tahun.
UMKM menyumbang sekitar 60 persen produk domestik bruto (PDB) dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja.
Direktur Eksekutif Indonesia Impact Alliance (IIA) Atika Benedikta mengatakan, laporan pemetaan ekosistem IIA pada 2024 menemukan bahwa 55 persen usaha yang disurvei membutuhkan pembiayaan dalam jumlah rentang tersebut, sementara sebagian besar dana investasi yang berorientasi pada dampak menurut laporan tersebut, umumnya menetapkan nilai investasi minimum sebesar USD1 juta.
Kondisi ini menyebabkan banyak pelaku usaha dalam kategori missing middle, belum mendapatkan akses pembiayaan yang memadai. Kesenjangan pembiayaan ini juga berdampak pada usaha yang dipimpin perempuan.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2025, usaha yang dipimpin perempuan mencakup 64,5 persen UMKM di Indonesia. Namun, hanya 18,2 persen pengambil keputusan di sektor modal ventura Indonesia yang merupakan perempuan.
Investasi berperspektif gender mempertimbangkan aspek gender dalam pengambilan keputusan investasi. Pendekatan ini dapat membuka lebih banyak peluang pendanaan bagi usaha yang dipimpin perempuan, mendorong kesetaraan gender, sekaligus memberikan keuntungan finansial bagi investor.
"Pembiayaan perlu disesuaikan dengan cara pelaku usaha beroperasi dan bertumbuh. Penyedia modal lokal atau intermediaries memahami karakteristik bisnis di Indonesia dan dapat menghubungkan mereka dengan investor yang menyediakan pembiayaan sesuai kebutuhan," kata Atika di Indonesia Impact Investment Summit 2026, Jakarta Pusat, Rabu (21/10/2026).
"Melalui forum ini, kami ingin mempertemukan pemilik modal, investor, perantara pembiayaan, dan para pendukung ekosistem untuk berkolaborasi dalam memobilisasi modal, sehingga semakin banyak usaha berdampak dapat bertumbuh, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," lanjut Atika.
Sementara itu, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menegaskan, investasi berdampak (impact investment) berperan penting dalam mengatasi kesenjangan pembiayaan berkelanjutan Indonesia yang diperkirakan mencapai USD1,7 triliun hingga USD8,7 triliun.
"Investasi ini juga mendukung pencapaian Indonesia Emas 2045 dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs). Selain pendanaan konvensional, Bappenas menekankan langkah pemerintah membangun ekosistem yang mendukung investasi dan pertumbuhan usaha," kata Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam Lingkungan Hidup Bappenas, Leonardo A. A. Teguh Sambodo.
Upaya ini, kata dia, mencakup perluasan akses pendanaan dan peningkatan pengenalan terhadap peluang investasi melalui pembiayaan campuran, kolaborasi pentaheliks, serta mekanisme pengurangan risiko secara struktural.
Dukungan untuk mengembangkan inovasi tahap awal, kata dia, peningkatan proyek agar dapat memperoleh pembiayaan, dan menyelaraskan investasi swasta dengan prioritas pembangunan nasional membuka peluang bagi investor global dan domestik.
"Peluang tersebut mencakup transportasi ramah lingkungan, energi terbarukan, usaha mikro, kesehatan, dan pendidikan, dengan mempertimbangkan kebutuhan pasar dan manfaat pembangunan," kata dia.
"Harapan kami event ini tidak hanya memobilisasi modal swasta. ini diharapkan mempercepat terwujudnya manfaat pembangunan bagi masyarakat yang paling membut Dengan lebih dari 62 persen capaian indikator SDGs, Indonesia berada di jalur pencapaian target, sehingga moment perlu diperkuat melalui solusi pasar yang tepat sasaran untuk mengatasi kesenjangan yang masih ada," katanya.
Bappenas juga berharap forum ini dapat menyalurkan investasi kepada usaha yang berada di tahap awal dan usaha sedang berkembang di sektor energi bersih, kesehatan, pendidikan berkualitas, serta usaha mikro.
"Demikian, modal swasta dapat mendukung penghidupan masyarakat yang lebih tangguh, infrastruktur yan ramah lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif menuju Indonesia Emas 2045," tambahnya.
Sementara itu, pengalaman Instellar dalam mendukung pertumbuhan usaha sosial menunjukkan bahwa invest menghadapi tantangan untuk menemukan usaha yang siap menerima investasi.
Kinerja usaha, tata kelo skala usaha yang kecil dapat membatasi peluang investasi. Program akselerator mempersiapkan usaha pertumbuhan dan investasi. Namun, menyelesaikan program tersebut tidak menjamin bahwa suatu usaha meı persyaratan investor.
"Usaha yang telah menyelesaikan program akselerator belum tentu siap menerima investasi," kata COO Instellar Impact Adisti.
(Nur Ichsan Yuniarto)