"Melalui forum ini, kami ingin mempertemukan pemilik modal, investor, perantara pembiayaan, dan para pendukung ekosistem untuk berkolaborasi dalam memobilisasi modal, sehingga semakin banyak usaha berdampak dapat bertumbuh, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," lanjut Atika.
Sementara itu, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menegaskan, investasi berdampak (impact investment) berperan penting dalam mengatasi kesenjangan pembiayaan berkelanjutan Indonesia yang diperkirakan mencapai USD1,7 triliun hingga USD8,7 triliun.
"Investasi ini juga mendukung pencapaian Indonesia Emas 2045 dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs). Selain pendanaan konvensional, Bappenas menekankan langkah pemerintah membangun ekosistem yang mendukung investasi dan pertumbuhan usaha," kata Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam Lingkungan Hidup Bappenas, Leonardo A. A. Teguh Sambodo.
Upaya ini, kata dia, mencakup perluasan akses pendanaan dan peningkatan pengenalan terhadap peluang investasi melalui pembiayaan campuran, kolaborasi pentaheliks, serta mekanisme pengurangan risiko secara struktural.
Dukungan untuk mengembangkan inovasi tahap awal, kata dia, peningkatan proyek agar dapat memperoleh pembiayaan, dan menyelaraskan investasi swasta dengan prioritas pembangunan nasional membuka peluang bagi investor global dan domestik.
"Peluang tersebut mencakup transportasi ramah lingkungan, energi terbarukan, usaha mikro, kesehatan, dan pendidikan, dengan mempertimbangkan kebutuhan pasar dan manfaat pembangunan," kata dia.
"Harapan kami event ini tidak hanya memobilisasi modal swasta. ini diharapkan mempercepat terwujudnya manfaat pembangunan bagi masyarakat yang paling membut Dengan lebih dari 62 persen capaian indikator SDGs, Indonesia berada di jalur pencapaian target, sehingga moment perlu diperkuat melalui solusi pasar yang tepat sasaran untuk mengatasi kesenjangan yang masih ada," katanya.