IDXChannel - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyiapkan serangkaian langkah strategis untuk mengamankan pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga penutupan tahun anggaran 2026.
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu, Suminto mengatakan, pemerintah membuka opsi penerbitan surat utang berdenominasi valuta asing (valas) dengan mengukur tingkat volatilitas dan dinamika pasar keuangan global secara cermat.
Sebagai langkah antisipasi, Kemenkeu saat ini tengah merampungkan seluruh dokumentasi hukum serta skema transaksi yang dibutuhkan. Di samping itu, pemerintah mengantongi opsi penarikan pinjaman program dari mitra bilateral dan multilateral senilai USD1,8 miliar yang siap dieksekusi pada kuartal IV-2026.
Pada pasar domestik, Kemenkeu mengagendakan 12 kali lelang Surat Berharga Negara (SBN) reguler sepanjang kuartal IV-2026, yang terbagi atas enam kali lelang Surat Utang Negara (SUN) dan enam kali lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).
"Kita masih memiliki jadwal 12 kali lelang SBN reguler setiap hari Selasa, jadi enam kali lelang SUN dan enam kali lelang SBSN di kuartal keempat," kata Suminto dalam konferensi pers APBN KiTa, Jumat (9/10/2026).
Selain lelang reguler, Kemenkeu menyiapkan dua kali penerbitan SBN ritel untuk investor domestik, yakni instrumen konvensional Saving Bond Ritel (SBR015) dan instrumen syariah Sukuk Tabungan (ST017).
Optimalisasi pembiayaan domestik ini sejalan dengan masih tingginya minat pemodal luar negeri.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menambahkan bahwa instrumen SBN menjadi daya tarik utama yang memicu aliran dana masuk investor asing (capital inflow) hingga menyentuh Rp131,1 triliun secara tahun berjalan (year-to-date) per September 2026.
Tren positif tersebut terus berlanjut hingga pekan pertama Oktober 2026.
"Inflow-nya ini disebabkan utamanya melalui SBN. SBN sudah menjadi lebih atraktif dan kemudian bisa mengundang inflow Rp36,7 triliun, termasuk selama 6 hari di bulan Oktober hampir Rp8 triliun," kata Suahasil.
Secara kumulatif, realisasi pembiayaan utang neto APBN yang bersumber dari SBN dan pinjaman telah mencapai Rp494,3 triliun per 30 September 2026.
Penerbitan SBN neto menjadi kontributor utama dengan capaian Rp497,5 triliun, sementara posisi penarikan pinjaman neto tercatat minus Rp3,2 triliun. (Febrina Ratna Iskana)