IDXChannel - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong percepatan ekspor sektor energi dan sumber daya alam, khususnya komoditas bauksit hingga produk hilirisasi alumina, ke pasar Federasi Rusia untuk memperkuat neraca perdagangan nasional.
Penegasan peran strategis dunia usaha tersebut mengemuka seiring momentum kedatangan delegasi bisnis asal Rusia dalam perhelatan Forum Bisnis Indonesia-Rusia di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie menekankan soal tingginya kebutuhan industri pengolahan Rusia terhadap bahan baku mineral membuka peluang besar bagi akselerasi ekspor tambang bernilai tambah asal tanah air.
Peluang integrasi rantai pasok komoditas tersebut dinilai sejalan dengan pola kemitraan industri yang sebelumnya telah berhasil dikembangkan Indonesia bersama China.
"Ada banyak kebutuhan domestik Rusia yang dapat dipenuhi oleh Indonesia berkat kekayaan sumber daya alam kita. Kita memiliki pasokan bauksit yang melimpah untuk diolah menjadi alumina hingga aluminium, sembari mengoptimalkan berbagai potensi energi yang kita miliki," ujar Anindya dalam Indonesia-Russia Business Forum, di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Potensi komoditas mineral olahan menuju pasar Rusia tercermin nyata dalam data resmi pemerintah. Berdasarkan catatan Satu Data Kementerian Perdagangan dan Badan Pusat Statistik, komoditas aluminium oksida atau alumina menjadi fenomena ekspor paling menonjol.
Ekspor alumina ke Rusia yang sebelumnya belum tercatat pada 2021, melonjak menjadi USD93,76 juta pada 2022. Kemudian, meningkat menjadi USD231,72 juta pada 2023, dan menyentuh rekor tertinggi sebesar USD426,07 juta pada 2024, sebelum terkoreksi ke level USD300,32 juta pada 2025.
Selain sektor mineral, komoditas turunan kelapa sawit seperti minyak sawit olahan dan minyak inti sawit tetap menempati posisi pilar utama ekspor nonmigas Indonesia ke Rusia pada rentang 2022–2025.
Kendati demikian, total nilai perdagangan bilateral kedua negara yang saat ini berkisar di angka USD5 miliar masih menyisakan defisit sekitar USD1 miliar bagi Indonesia, lantaran besarnya impor pupuk, batu bara, besi baja, hingga gandum dari Rusia.
Untuk membalikkan defisit tersebut, Kadin aktif mempromosikan buku katalog komersial bertajuk We Buy from Indonesia. Langkah ini bertujuan membuktikan keandalan produk manufaktur dan komoditas domestik yang telah diserap jejaring global, mulai dari produk konsumsi harian seperti Evian dan Procter & Gamble, hingga pasokan komponen industri pesawat dan teknologi mutakhir untuk Airbus, Tesla, serta Samsung.
Pertemuan bilateral ini menjadi tindak lanjut konkret dari lawatan Presiden Prabowo Subianto ke Vladivostok serta Saint Petersburg dalam memperluas kerja sama perdagangan dan investasi luar negeri. Kehadiran delegasi Rusia mencakup perwakilan lembaga pengelola dana investasi negara (sovereign wealth fund—selevel Danantara), korporasi BUMN, hingga pelaku swasta.
Dalam diskusi tersebut, Wakil Menteri Perdagangan dan Industri Rusia bahkan melontarkan skema kemitraan yang dinilai menarik, yakni membeli produk dari Indonesia dengan memproduksinya terlebih dahulu di dalam negeri melalui sokongan teknologi serta investasi Rusia.
Anindya mengatakan Kadin memproyeksikan optimalisasi pasokan energi dan mineral olahan ini dapat mengerek kapasitas ekspor nasional menuju skala yang jauh lebih masif. Lompatan volume penjualan ke pasar nontradisional diyakini bakal mempertebal cadangan devisa, menyusul capaian surplus neraca dagang USD7 miliar hingga Agustus lalu pada ajang Trade Expo Indonesia.
"Forum Bisnis Indonesia-Rusia tidak lain bertujuan untuk meningkatkan nilai ekspor kita dari yang saat ini sebesar USD300 miliar agar bertambah lebih besar lagi menjadi USD400 hingga USD500 miliar," kata Anindya.
Pemerintah bersama Kadin menargetkan nilai transaksi perdagangan bilateral Indonesia-Rusia dapat berlipat ganda dalam lima tahun ke depan dengan neraca yang seimbang. Kendati target tersebut dinilai realistis, ekspansi bisnis masih menghadapi tantangan pada jalur logistik maritim dan ketiadaan instrumen kliring pembayaran lintas batas yang efisien.
Kadin mendorong otoritas kedua negara segera merumuskan jalan keluar atas hambatan kliring perbankan serta keterbatasan armada kargo langsung antarkedua kawasan. Kepastian regulasi transaksi dinilai menjadi penentu utama agar target penggandaan nilai dagang dalam kurun lima tahun dapat terealisasi secara seimbang.
"Salah satu hal paling krusial adalah ketersediaan instrumen keuangan untuk mekanisme pembayaran serta kelancaran sektor logistik. Kedua mekanisme ini sangat penting untuk segera diselesaikan," urai Anindya. (Febrina Ratna Iskana)