Pertemuan bilateral ini menjadi tindak lanjut konkret dari lawatan Presiden Prabowo Subianto ke Vladivostok serta Saint Petersburg dalam memperluas kerja sama perdagangan dan investasi luar negeri. Kehadiran delegasi Rusia mencakup perwakilan lembaga pengelola dana investasi negara (sovereign wealth fund—selevel Danantara), korporasi BUMN, hingga pelaku swasta.
Dalam diskusi tersebut, Wakil Menteri Perdagangan dan Industri Rusia bahkan melontarkan skema kemitraan yang dinilai menarik, yakni membeli produk dari Indonesia dengan memproduksinya terlebih dahulu di dalam negeri melalui sokongan teknologi serta investasi Rusia.
Anindya mengatakan Kadin memproyeksikan optimalisasi pasokan energi dan mineral olahan ini dapat mengerek kapasitas ekspor nasional menuju skala yang jauh lebih masif. Lompatan volume penjualan ke pasar nontradisional diyakini bakal mempertebal cadangan devisa, menyusul capaian surplus neraca dagang USD7 miliar hingga Agustus lalu pada ajang Trade Expo Indonesia.
"Forum Bisnis Indonesia-Rusia tidak lain bertujuan untuk meningkatkan nilai ekspor kita dari yang saat ini sebesar USD300 miliar agar bertambah lebih besar lagi menjadi USD400 hingga USD500 miliar," kata Anindya.
Pemerintah bersama Kadin menargetkan nilai transaksi perdagangan bilateral Indonesia-Rusia dapat berlipat ganda dalam lima tahun ke depan dengan neraca yang seimbang. Kendati target tersebut dinilai realistis, ekspansi bisnis masih menghadapi tantangan pada jalur logistik maritim dan ketiadaan instrumen kliring pembayaran lintas batas yang efisien.