Potensi komoditas mineral olahan menuju pasar Rusia tercermin nyata dalam data resmi pemerintah. Berdasarkan catatan Satu Data Kementerian Perdagangan dan Badan Pusat Statistik, komoditas aluminium oksida atau alumina menjadi fenomena ekspor paling menonjol.
Ekspor alumina ke Rusia yang sebelumnya belum tercatat pada 2021, melonjak menjadi USD93,76 juta pada 2022. Kemudian, meningkat menjadi USD231,72 juta pada 2023, dan menyentuh rekor tertinggi sebesar USD426,07 juta pada 2024, sebelum terkoreksi ke level USD300,32 juta pada 2025.
Selain sektor mineral, komoditas turunan kelapa sawit seperti minyak sawit olahan dan minyak inti sawit tetap menempati posisi pilar utama ekspor nonmigas Indonesia ke Rusia pada rentang 2022–2025.
Kendati demikian, total nilai perdagangan bilateral kedua negara yang saat ini berkisar di angka USD5 miliar masih menyisakan defisit sekitar USD1 miliar bagi Indonesia, lantaran besarnya impor pupuk, batu bara, besi baja, hingga gandum dari Rusia.
Untuk membalikkan defisit tersebut, Kadin aktif mempromosikan buku katalog komersial bertajuk We Buy from Indonesia. Langkah ini bertujuan membuktikan keandalan produk manufaktur dan komoditas domestik yang telah diserap jejaring global, mulai dari produk konsumsi harian seperti Evian dan Procter & Gamble, hingga pasokan komponen industri pesawat dan teknologi mutakhir untuk Airbus, Tesla, serta Samsung.