Pembangunan fasilitas tersebut dilakukan di tengah aktivitas operasional Bandara Soekarno-Hatta yang tetap berjalan. Kondisi ini membuat pekerjaan konstruksi membutuhkan koordinasi lintas bidang serta pengendalian pekerjaan agar tidak mengganggu aktivitas di kawasan bandara.
Untuk mendukung proses konstruksi, Hutama Karya menerapkan Building Information Modelling (BIM) 5D. Teknologi tersebut digunakan antara lain untuk menghitung kebutuhan material utama, melihat keterkaitan antarpekerjaan, serta mengidentifikasi potensi benturan (clash) antara pekerjaan struktur, arsitektur, dan mekanikal, elektrikal, serta plumbing (MEP).
"Kondisi tersebut membutuhkan koordinasi dan pengendalian pekerjaan yang baik, mulai dari pelaksanaan konstruksi hingga aspek keselamatan dan keamanan," ujar Hamdani dalam keterangan resmi, Jumat (25/9/2026).
Dari sisi desain, Integrated Building memadukan konsep modern-kontemporer dengan unsur budaya lokal. Fasad bangunan menggunakan panel Glass-Fiber Reinforced Concrete (GRC) berwarna oranye-terakota dengan motif Mega Mendung yang merupakan salah satu motif khas batik Cirebon.
Pembangunan menggunakan material utama berupa besi dan beton. Besi dipasok dari Surabaya, sementara beton berasal dari wilayah sekitar Bandara Soekarno-Hatta.