Contoh perubahan tersebut terlihat di Morowali dan Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, lebih dari 75 persen struktur ekonomi Morowali kini berasal dari sektor industri. Kondisi itu berbeda dengan sebelumnya ketika lebih dari separuh struktur ekonominya masih berasal dari sektor primer seperti pertambangan dan pertanian.
Menurut Faisal, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi tidak berhenti pada peningkatan nilai komoditas setelah ditambang. Kehadiran industri pengolahan dapat membentuk basis kegiatan ekonomi baru sekaligus mengubah lanskap perekonomian daerah penghasil. Rantai nilai yang terbentuk juga dapat berkembang ke sektor lain, mulai dari energi dan manufaktur hingga jasa pendukung industri.

Dalam ekosistem tersebut, MIND ID melalui perusahaan-perusahaan anggota holding-nya turut mendorong pengembangan rantai nilai mineral dan batu bara. Anggota holding seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau ANTAM, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), Freeport Indonesia, Inalum, PT Timah Tbk (TINS), dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menjalankan bisnis sesuai core-nya masing-masing, sekaligus mengambil bagian dalam pengembangan industri hilir.
Salah satu contohnya terlihat pada pengembangan nikel dan turunannya oleh Vale Indonesia melalui sejumlah proyek di Bahodopi, Pomalaa, dan Sorowako. Sementara itu, ANTAM dan Inalum menjadi bagian dari konsorsium BUMN yang mengelola Indonesia Battery Corporation (IBC), yang mengembangkan bisnis baterai tidak hanya untuk kendaraan listrik tetapi juga untuk kebutuhan penyimpanan energi, termasuk yang berkaitan dengan pertumbuhan pusat data.
Di sisi lain, PT Bukit Asam mengembangkan sejumlah proyek hilirisasi di luar bisnis batu bara, antara lain coal to methanol dan DME (dimethyl ether), coal to SNG (synthetic natural gas), serta pengembangan kalium humat.