Pandangan serupa disampaikan Wakil Rektor I IPB Deni Noviana yang menyatakan, kebijakan strategis perlu dibangun di atas scientific base dan kompetensi lintas fakultas. Pengembangan bioetanol tidak cukup dikaji dari satu sisi karena menyangkut pertanian, teknologi, ekonomi, lingkungan, serta aspek sosial.
“Kami berharap forum ini menghasilkan kajian berbasis data dan rekomendasi yang jelas, termasuk bagaimana rekomendasi tersebut dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah,” ujar Deni.
FGD menyepakati delapan arah penting. Pertama, bioetanol merupakan agenda strategis nasional untuk menekan impor energi dan mendukung target Net Zero Emission 2060.
Kedua, keberlanjutan pasokan menjadi kunci, mencakup kuantitas, kualitas, kontinuitas, varietas, dan waktu panen.
Ketiga, lokus bioetanol perlu dibedakan dari lokus pangan agar tidak terjadi persaingan harga. Keempat, kesesuaian komoditas dan lokasi harus divalidasi melalui uji lapangan karena setiap tanaman memiliki kebutuhan lingkungan dan teknologi budidaya yang berbeda.