Dalam roadmap tersebut, pada 2029 ditargetkan pengembangan hingga 1 juta hektare lahan untuk singkong, sorgum, dan jagung, dengan kapasitas produksi bioetanol sedikitnya 5 juta kiloliter per tahun.
“Target tersebut harus dibangun dari kepastian bahan baku, kesesuaian lahan, produktivitas, teknologi, hingga keekonomian dan partisipasi masyarakat. Karena itu, pendekatan multifeedstock dan integrasi hulu-hilir menjadi penting,” ujar Abdul Ghani.
Dari sisi akademik, Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) IPB University Suryo Wiyono menegaskan, kolaborasi lintas disiplin diperlukan agar pengembangan bioetanol tidak berhenti pada gagasan. Faperta memiliki berbagai inovasi dan kompetensi yang dapat dikolaborasikan untuk mendukung pengembangan bioetanol, mulai dari budidaya dan produktivitas bahan baku hingga teknologi, ekonomi, dan model pengembangan yang dapat menghasilkan keluaran konkret dan terukur.
“Pengembangan bioetanol membutuhkan kontribusi berbagai disiplin ilmu. Keberhasilannya terletak pada detail. Karena itu, aspek on-farm maupun pengolahan perlu dipetakan, dikuasai, dan dikelola dengan baik. Faperta memiliki berbagai inovasi dan siap berkolaborasi untuk mendukung program ini agar dapat dikembangkan secara produktif dan berkelanjutan,” kata Suryo.