sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Daya Beli Belum Pulih, Penjualan Barang Mewah Bekas di China Kalahkan LVMH

Economics editor Kurnia Nadya
19/10/2026 10:44 WIB
Pola konsumsi barang mewah di China berubah; kini konsumen lebih menyukai barang mewah bekas alih-alih memburu barang mewah baru. 
Daya Beli Belum Pulih, Penjualan Barang Mewah Bekas di China Kalahkan LVMH. (Foto: Istimewa)
Daya Beli Belum Pulih, Penjualan Barang Mewah Bekas di China Kalahkan LVMH. (Foto: Istimewa)

IDXChannel—Penjualan brand barang mewah asal barat bersaing secara ketat dengan penjualan barang mewah bekas di China, menyusul pemulihan ekonomi China yang masih berlangsung usai pandemi. 

Pola konsumsi barang mewah di China berubah; kini konsumen lebih menyukai barang mewah bekas alih-alih memburu barang mewah baru. 

Melansir CNA (19/10/2026), China adalah pasar terbesar ketiga dan menyumbang penjualan miliaran dolar untuk brand barang mewah seperti merek-merek di bawah naungan Louis Vuitton Moët Hennessy (LVMH), Hermès, dan sebagainya. 

Namun, dengan kondisi ekonomi yang belum pulih, daya beli konsumen di China pun mengetat, memaksa brand untuk mengubah strategi penjualannya. LVMH bahkan dilaporkan telah menutup lima outletnya di China dalam dua tahun terakhir. 

Demikian juga Galeries Lafayette yang menutup outlet flagship-nya di Beijing pada Mei silam. 

“Dulu konsumen membandingkan siapa yang belanja lebih banyak. Sekarang, konsumen membandingkan siapa yang berhasil memperoleh deal yang lebih menguntungkan dan siapa yang berhasil menghemat,” tutur salah satu konsumen. 

Firma konsultan Bain & Company mencatat pangsa penjualan barang mewah anjlok 19 persen pada 2024. Penurunan itu berlanjut sebesar 3-5 persen pada tahun lalu. 

LVMH mengungkap bahwa penurunan penjualan itu didorong oleh pelemahan permintaan di pasar China. Sebaliknya, pangsa penjualan barang mewah bekas di negara itu justru meroket, dari 15 persen menjadi 20 persen pada 2025. 

Firma konsultan lokal, Insight & Info Consulting, memperkirakan nilai penjualan barang mewah bekas di China mencapai 38,4 miliar yuan, atau setara dengan USD5,7 miliar, pada tahun lalu. 

Nilai penjualan ini juga diprediksikan akan meningkat menjadi 100 miliar yuan pada 2030. Head of China Consumer Research Bank of America Chen Luo mengatakan bahwa konsumen tidak lagi mengasosiasikan kemewahan dengan status sosial. 

“Persepsi konsumen kini mengarah pada identitas diri, perbedaan, pengalaman, kualitas, nilai emosional, dan relevansi budaya,” jelas Luo. 

Biarpun pangsa dan nilai penjualan menurun, China tetap dianggap sebagai salah satu pangsa pasar yang signifikan bagi brand barang mewah di dunia, meskipun negara tersebut tidak lagi menjadi sumber pertumbuhan dalam 2-3 tahun mendatang. 

Sebab pembelian barang mewah umumnya akan pulih beriringan dengan pemulihan ekonomi, konsumen kelas atas adalah kalangan konsumen pertama yang akan mengalami pemulihan daya beli terlebih dahulu. 

(Nadya Kurnia)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement