sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Danantara Siap Perkuat Daya Saing Industri Tekstil dan Sepatu Nasional 

Economics editor Rohman Wibowo
25/09/2026 06:00 WIB
Danantara bersama BP BUMN menekankan komitmennya untuk memperkuat industri tekstil dan alas kaki nasional dari hulu hingga hilir. 
Danantara bersama BP BUMN menekankan komitmennya untuk memperkuat industri tekstil dan alas kaki nasional dari hulu hingga hilir. (Foto: Dok. Danantara)
Danantara bersama BP BUMN menekankan komitmennya untuk memperkuat industri tekstil dan alas kaki nasional dari hulu hingga hilir. (Foto: Dok. Danantara)

IDXChannel - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) bersama Badan Pengelola Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) menekankan komitmennya untuk memperkuat industri tekstil dan alas kaki nasional dari hulu hingga hilir. 

Langkah ini diarahkan untuk mendongkrak kembali daya saing manufaktur padat karya dalam negeri di tengah tekanan persaingan pasar global. Agenda tersebut difokuskan untuk merumuskan langkah pemulihan yang konkret agar industri padat karya nasional mampu bangkit menghadapi serbuan produk impor dan tekanan ekspor.

Pada tahun 2024, kedua industri ini terus tumbuh secara moderat namun ekspansif. Tekstil mencapai nilai tertinggi di angka Rp203,95 triliun, sementara alas kaki melaju ke Rp49,24 triliun. Kontribusi industri tekstil sendiri tercatat berada di kisaran 0,97-0,99 persen terhadap total PDB nasional.

"Danantara Indonesia dan BP BUMN berkomitmen penuh memperkuat daya saing industri tekstil dan sepatu nasional dari hulu hingga hilir. Penguatan ini sangat krusial agar industri padat karya kita mampu menghadapi persaingan globalbyang ketat dengan negara-negara kompetitor," ujar Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, dalam keterangan resmi dikutip Kamis (24/9/2026). 

Dalam pertemuan yang digelar baru-baru ini, pelaku industri tekstil dan sepatu membeberkan sejumlah tantangan struktural yang dihadapi operasional pabrik. Berbagai persoalan mendasar yang disoroti mencakup tingginya beban produksi, kendala pada sistem kerja, hingga inefisiensi pada struktur pembiayaan harian.

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement