IDXChannel—Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) menyotori keterjangkauan harga gas dan keandalan pasokan gas bagi industri keramik. Hal ini disampaikan langsung oleh Ketua Umum ASAKI Edy Suyanto kepada Menteri Perindustrian Sarmuji.
Sebelumnya, Edy mengapresiasi beragam dukungan yang diberikan pemerintah untuk menjaga keberlangsungan dan daya saing industri keramik domestik. Namun, hingga saat ini pelaku industri keramik domestik masih mengalami gangguan suplai gas yang akhirnya memengaruhi biaya produksi.
“Dengan alokasi gas 73 persen dari kebutuhan dan menghitung harga LNG hasil regasifikasi, rata-rata harga gas untuk industri keramik penerima HGBT (Harga Gas Bumi Tertentu) harusnya di kisaran USD8-USD8,5 per MMBTU,” tutur Edy dalam laman resmi Kemenperin (22/10/2026).
Edy menilai harga tersebut memang masih tergolong kompetitif. Namun, karena terjadi gangguan pasokan dan pembatasan pemanfaatan gas sejak September hingga bulan ini, harga rata-rata yang akhirnya dibayarkan oleh pelaku usaha keramik menjadi USD11 per MMBTU.
Dia berpendapat kondisi ini perlu diperhatikan, sebab berpotensi mengganggu daya saing industri keramik domestik. ASAKI berharap pemerintah memperkuat pengawasan penerapan kebijakan alokasi gas. Sehingga, pasokan yang telah ditetapkan dapat disalurkan secara konsisten.