sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Pembiayaan ESG BSI Tembus Rp78,6 Triliun per Juni 2026

Banking editor Shifa Nurhaliza Putri
09/10/2026 15:30 WIB
Portofolio pembiayaan berbasis ESG BSI per Juni 2026 yang mencapai Rp78,6 triliun atau 23,1 persen dari total pembiayaan perseroan.
Pembiayaan ESG BSI Tembus Rp78,6 Triliun per Juni 2026. (Foto: Ilustrasi)
Pembiayaan ESG BSI Tembus Rp78,6 Triliun per Juni 2026. (Foto: Ilustrasi)

IDXChannel – PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) terus mendorong pertumbuhan pembiayaan berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai bagian dari komitmen menjaga lingkungan dan mendukung bisnis berkelanjutan.

Komitmen tersebut tercermin dari portofolio pembiayaan berbasis ESG BSI per Juni 2026 yang mencapai Rp78,6 triliun atau 23,1 persen dari total pembiayaan perseroan. Nilai tersebut tumbuh 7,09 persen dibandingkan periode sebelumnya. 

Pembiayaan itu terdiri atas Green Financing sebesar Rp17,4 triliun dan Social Financing sebesar Rp61,2 triliun.

Wakil Direktur Utama BSI Bob T Ananta menjelaskan, BSI memiliki tiga pilar ESG, yakni sustainable banking, operation & beyond banking, serta business enablers.

“Kami membuktikan bahwa komitmen terhadap bisnis berkelanjutan membuat portofolio bisnis menjadi nyata dan tumbuh sehat,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima, Jumat (9/10/2026).

Dari sisi pendanaan, perseroan juga memperkuat pengembangan produk keuangan berkelanjutan melalui penerbitan Sustainable Sukuk dengan total penerbitan sebesar Rp8 triliun dari total penerbitan sukuk berkelanjutan senilai Rp10 triliun.

“Bagi BSI, keberlanjutan merupakan bagian dari amanah untuk menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas. Karena itu, pertumbuhan bisnis harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial, perlindungan lingkungan, tata kelola yang baik, serta penciptaan nilai ekonomi yang inklusif,” ujar Bob.

Prinsip tersebut menjadi landasan BSI dalam memastikan setiap aktivitas bisnis memberikan manfaat jangka panjang bagi nasabah, masyarakat, pemegang saham, dan lingkungan. Salah satunya melalui penguatan lini bisnis akar rumput (grassroot), khususnya segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat.

Bagi BSI, pengembangan UMKM merupakan bagian penting dari ekosistem ekonomi syariah. Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, segmen ini juga berperan dalam membuka lapangan kerja dan memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Saat ini, rasio pembiayaan inklusif makroprudensial (RPIM) BSI tercatat sekitar 33,65 persen, melampaui target yang ditetapkan sebesar 30 persen. Segmen UMKM menyumbang sekitar 16,25 persen dari total portofolio pembiayaan BSI. Selain itu, puluhan ribu UMKM tercatat naik kelas ke segmen usaha yang lebih tinggi. 

Di antaranya, sekitar 17 ribu UMKM KUR Mikro naik ke segmen KUR Kecil dan komersial, sekitar 4 ribu UMKM KUR Kecil masuk ke segmen komersial, serta sekitar seribuan UMKM naik dari segmen mikro ke segmen small and medium enterprise (SME).

Komitmen terhadap ekonomi berkelanjutan juga diwujudkan melalui inovasi pembiayaan hijau dan instrumen keuangan berkelanjutan. Selain menerbitkan Sustainable Sukuk dengan total Rp8 triliun, BSI meluncurkan Sustainability-Linked Financing pertama di Indonesia senilai Rp1,5 triliun untuk Tol Bali Mandara. Di bidang sosial dan lingkungan, BSI juga menyalurkan dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF), menggunakan kendaraan operasional ramah lingkungan, serta menerapkan carbon tracking.

“Langkah ini sejalan dengan penguatan Good Corporate Governance (GCG) sebagai fondasi untuk memastikan seluruh aktivitas bisnis dijalankan secara transparan, akuntabel, bertanggung jawab, independen, dan sesuai dengan prinsip kehati-hatian,” pungkasnya.

(Shifa Nurhaliza Putri)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement