Dari sisi pendanaan, perseroan juga memperkuat pengembangan produk keuangan berkelanjutan melalui penerbitan Sustainable Sukuk dengan total penerbitan sebesar Rp8 triliun dari total penerbitan sukuk berkelanjutan senilai Rp10 triliun.
“Bagi BSI, keberlanjutan merupakan bagian dari amanah untuk menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas. Karena itu, pertumbuhan bisnis harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial, perlindungan lingkungan, tata kelola yang baik, serta penciptaan nilai ekonomi yang inklusif,” ujar Bob.
Prinsip tersebut menjadi landasan BSI dalam memastikan setiap aktivitas bisnis memberikan manfaat jangka panjang bagi nasabah, masyarakat, pemegang saham, dan lingkungan. Salah satunya melalui penguatan lini bisnis akar rumput (grassroot), khususnya segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat.
Bagi BSI, pengembangan UMKM merupakan bagian penting dari ekosistem ekonomi syariah. Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, segmen ini juga berperan dalam membuka lapangan kerja dan memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Saat ini, rasio pembiayaan inklusif makroprudensial (RPIM) BSI tercatat sekitar 33,65 persen, melampaui target yang ditetapkan sebesar 30 persen. Segmen UMKM menyumbang sekitar 16,25 persen dari total portofolio pembiayaan BSI. Selain itu, puluhan ribu UMKM tercatat naik kelas ke segmen usaha yang lebih tinggi.