sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Jeli Lihat Peluang, Nasabah PNM Mekaar Sulap Sampah Pasar Jadi Usaha Beromzet Jutaan Rupiah

Banking editor Dhera Arizona Pratiwi
16/09/2026 19:36 WIB
Pandemi Covid-19 pada 2020 menjungkirbalikkan hidup Zulhaida Sitanggang.
Jeli Lihat Peluang, Nasabah PNM Mekaar Sulap Sampah Pasar Jadi Usaha Beromzet Jutaan Rupiah. (Foto Istimewa/PNM)
Jeli Lihat Peluang, Nasabah PNM Mekaar Sulap Sampah Pasar Jadi Usaha Beromzet Jutaan Rupiah. (Foto Istimewa/PNM)

IDXChannel – Pandemi Covid-19 pada 2020 menjungkirbalikkan hidup Zulhaida Sitanggang. Seorang guru yang merasakan pemotongan upah mengajar secara besar-besaran akibat ketidakstabilan sekolah tempatnya mengajar pada masa itu. Tekanan itu membawanya pada keputusan berat, berhenti mengajar dan mencari cara bertahan dari rumah.

Jalan yang ditempuh tidak langsung mulus. Usaha berjualan tanaman secara daring yang lebih dulu ia rintis layu sebelum sempat berkembang. Titik balik justru datang dari tempat tak terduga, sebuah komunitas alumni yang mengumpulkan barang bekas untuk disalurkan sebagai bantuan bagi warga terdampak pandemi.

Dari tumpukan gelas dan piring retak yang sudah tak lagi bisa dijual, Zulhaida melihat peluang yang luput dari mata orang lain. Ia menghiasnya dengan tali dari kain bekas, lalu menjualnya secara daring dengan sebagian hasil disumbangkan kembali untuk kegiatan amal.

Dua buah gelas hias pertamanya langsung terjual seharga seratus ribu rupiah, awal kecil yang menyalakan rasa ingin tahunya pada bahan-bahan lain. Hal itu membawanya pada rangkaian bunga berbahan kulit jagung yang ia lihat saat berkunjung ke rumah saudara.

Zulhaida belajar secara otodidak lewat video tutorial, sembari mengolah kulit jagung bekas yang ia ambil sendiri dari tempat sampah pasar tradisional. Percobaan pertamanya jauh dari sempurna, namun satu unggahan di media sosial cukup menarik minat pembeli dan membuka jalan bagi usahanya.

Perhatian seorang perajin senior menjadi titik penting berikutnya. Ia membimbing Zulhaida memperbaiki teknik pengolahan agar hasil kerajinan lebih tahan lama dan tidak mudah berjamur.

Usaha yang kemudian diberi nama Aida Craft itu mulai dikenal lewat undangan pernikahan dan ulang tahun, tempat Zulhaida membagikan rangkaian bunganya sebagai hadiah sekaligus ajang promosi, hingga akhirnya diliput sejumlah media lokal.

Zulhaida sempat nyaris menyerah ketika karyanya diremehkan di sejumlah pameran dan menerima cibiran karena berjualan hasil olahan sampah, meski ia berlatar belakang sarjana dan mantan guru. Ketekunan itu justru mengantarkannya masuk ke jaringan Asosiasi Eksportir Handicraft Indonesia, mengikuti program pembinaan UMKM selama tiga bulan, hingga meraih sertifikasi BNSP sebagai pelatih kerajinan tangan.

Modal untuk mengembangkan usaha ini kemudian mendapat sokongan dari pembiayaan PNM Mekaar, yang ia kenal dari ajakan tetangga dan resmi digelutinya sejak 2024. Dari data mitra binaan, usaha kerajinan tangan Zulhaida kini mampu membuka lapangan kerja untuk dua orang karyawan, sementara omzet bulanannya sempat menyentuh Rp5 juta, jauh melampaui penjualan pertamanya yang hanya bernilai Rp100 ribu.

Dukungan itu, menurut Zulhaida, tidak berhenti di angka pembiayaan. Modal awal dari PNM Mekaar sempat ia pakai untuk membeli kebutuhan produksi paling dasar seperti pot dan lem, saat usahanya belum punya apa-apa selain kegigihan dan tumpukan kulit jagung bekas.

Dari titik itu, rangkaian program pemberdayaan PNM ikut membentuk perjalanan Aida Craft selangkah demi selangkah, mulai dari pendampingan lewat Mba Maya, penguatan jejaring usaha melalui program Klasterisasi, hingga pembekalan kewirausahaan lanjutan lewat Mekaarpreneur.

PNM juga rutin melibatkan Zulhaida sebagai pemateri dalam kegiatan Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU) bagi sesama nasabah, membawanya berkeliling dari kelurahan di sekitar Johor hingga daerah yang lebih jauh seperti Berastagi dan Binjai untuk berbagi keterampilan yang sama yang dulu ia pelajari sendirian dari tumpukan sampah.

"Bersama PNM Mekaar, saya belajar mengembangkan usaha, menambah penghasilan, dan memberi yang terbaik untuk keluarga. Semangat terus untuk semua perempuan hebat di luar sana," ujar Zulhaida.

Pemimpin Cabang Medan Muhammad Wazir membenarkan peran aktif Zulhaida di lingkungan PNM. Ia menyebut Zulhaida kerap diminta menjadi pemateri dalam kegiatan Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU) bagi sesama nasabah di wilayah binaannya. 

"Bu Aida sering kita ajak untuk jadi pemateri untuk kegiatan PKU buat nasabah lainnya," ujar Muhammad Wazir.

"Kisah Ibu Zulhaida adalah contoh nyata bagaimana pembiayaan dari PNM bukan sekadar bantuan modal, tapi pintu masuk bagi perempuan Indonesia untuk bangkit dan mandiri secara ekonomi. PNM hadir bukan hanya untuk membiayai, tapi mendampingi hingga nasabah seperti Ibu Zulhaida bisa berbalik menjadi pemberdaya bagi sesama nasabah lainnya. Inilah semangat yang terus kami bawa, tumbuh bersama, berdaya bersama," ujar Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM Kindaris.

Jangkauan Zulhaida sebagai pemberdaya bahkan meluas hingga ke luar jaringan PNM. Permintaan sebuah program pemberdayaan di kawasan pesisir yang tak memiliki kulit jagung membawanya merambah bahan baku baru berupa limbah plastik, langkah yang membuatnya dikenal Ikatan Pemulung Indonesia dan mengantarkannya melatih 175 ibu-ibu se-Kota Medan, hingga diundang Bank Indonesia mempelajari langsung pengolahan limbah di Bali.

"Tidak ada yang mustahil ketika kita berusaha dan berdoa. Saya memulai dari sampah, tapi saya tidak pernah merasa hidup saya sampah justru penuh berkah," kata Zulhaida.

Perjalanan itu kini bermuara pada langkah baru. Di rumahnya yang juga berfungsi sebagai ruang pelatihan, Zulhaida tengah menyiapkan program kursus kerajinan bagi siapa saja yang ingin belajar, termasuk mereka yang tidak mampu membayar penuh, keberlanjutan dari perjalanan yang ia mulai dari keterbatasan di masa pandemi.

(Dhera Arizona)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement