IDXChannel - Kesepakatan untuk membatasi ekspor mobil hybrid China ke Uni Eropa merupakan pukulan baru bagi produsen kendaraan listrik (EV) asal Negeri Tirai Bambu tersebut.
Dilansir dari Investing pada Selasa (13/10/2026), tantangan ini muncul di tengah lonjakan ekspor mobil hybrid China ke Uni Eropa yang nilainya mencapai USD7,5 miliar (Rp134 triliun) pada paruh pertama 2026.
Nilai ekspor tersebut meningkat tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dengan nilai yang tercatat sebesar USD2,5 miliar. Kenaikan ini menunjukkan semakin kuatnya posisi produsen otomotif China di pasar kendaraan Eropa.
Meningkatnya permintaan mobil hybrid China di Uni Eropa terjadi setelah Brussel memberlakukan tarif tambahan terhadap mobil listrik murni buatan China pada 2024. Kondisi itu mendorong produsen China memperluas penjualan kendaraan hybrid dan plug-in hybrid yang tidak dikenai tarif di blok regional tersebut.
Di sisi lain, mobil hybrid menjadi pilihan banyak konsumen Eropa karena merupakan penggabungan antara kendaraan konvensional dengan listrik.