Karena itu, ia mendorong agar pemanfaatan asrama haji diperluas untuk berbagai kebutuhan, seperti akomodasi, perhotelan, manasik, pelatihan, pertemuan, hingga kegiatan masyarakat lainnya. Pengembangan tersebut, kata Ian, harus berjalan beriringan dengan fungsi utama asrama haji sebagai bagian penting dari pelayanan jamaah.
Perubahan juga tidak cukup dilakukan pada aspek fisik. Ian menilai diperlukan perubahan cara pandang dalam mengelola aset tersebut. Asrama haji harus dikelola secara profesional, transparan dan akuntabel, sehingga mampu memberikan pelayanan yang semakin baik sekaligus memiliki keberlanjutan secara ekonomi.
“Mindset itu yang harus kita ubah. Mengubah mindset memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan,” katanya.
Di sisi lain, Ian tidak ingin transformasi asrama haji hanya dilihat dari perspektif bisnis. Menurutnya, ada dimensi spiritual yang melekat pada keberadaan asrama haji sebagai gerbang awal perjalanan jamaah menuju Tanah Suci.
Ia pun menyebut asrama haji sebagai “doa iftitah” dalam rangkaian perjalanan ibadah haji.