Sementara itu, India memiliki pasar yang beragam melalui Ola dan Rapido. Salah satu model yang menarik perhatian adalah Namma Yatri, yang mengusung sistem tanpa komisi perjalanan sehingga pengemudi dapat menerima seluruh tarif perjalanan sesuai skema layanannya.
Di Malaysia, pasar transportasi online didominasi Grab, dengan sejumlah pesaing seperti Maxim dan inDrive. Layanan ojek motor penumpang tidak berkembang sebesar di Indonesia, dengan pilihan transportasi yang lebih banyak bertumpu pada mobil dan taksi.
Adapun di Eropa, pasar transportasi online berbeda-beda di setiap negara. Jerman memiliki Bolt dan Free Now, Prancis memiliki G7 yang terhubung dengan taksi berlisensi, sedangkan Spanyol memiliki Cabify. Di Inggris, layanan seperti Gett juga menghubungkan pengguna dengan taksi konvensional, termasuk black cabs di London.
Menurut Djoko, perbedaan mendasar dalam pengelolaan transportasi berbasis aplikasi juga perlu dilihat dari aspek perlindungan pengemudi.
Dia menerangkan, pendekatan terhadap pengemudi di Malaysia berbeda dengan Indonesia. Pengemudi di Malaysia mendapatkan pengakuan sebagai pekerja dan perlindungan melalui pengaturan pemerintah, sedangkan di Indonesia kesejahteraan pengemudi masih banyak bergantung pada kebijakan perusahaan aplikasi.
Dia menegaskan, perbedaan sistem transportasi online antarnegara tidak hanya terletak pada aplikasi yang digunakan, tetapi juga pada struktur pasar, keterlibatan perusahaan taksi konvensional, jenis kendaraan yang dominan, serta regulasi dan perlindungan bagi pengemudi.
(Dhera Arizona)