sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Qodari Sebut 4.602 Desa Bakal Dialiri Listrik dari Energi Terbarukan

News editor Binti Mufarida
17/09/2026 12:06 WIB
Skema tersebut akan diterapkan untuk memenuhi kebutuhan listrik di 4.602 lokasi.
Qodari Sebut 4.602 Desa Bakal Dialiri Listrik dari Energi Terbarukan ( FOTO:iNews Media Group)
Qodari Sebut 4.602 Desa Bakal Dialiri Listrik dari Energi Terbarukan ( FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel - Pemerintah akan memanfaatkan Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk memenuhi kebutuhan listrik di wilayah yang belum terjangkau jaringan PT PLN (Persero). Skema tersebut akan diterapkan untuk memenuhi kebutuhan listrik di 4.602 lokasi.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari mengatakan pemerintah saat ini tengah menjalankan Program Elektrifikasi guna menghadirkan akses listrik ke 10.068 lokasi yang belum sepenuhnya menikmati layanan listrik pada periode 2025–2029.

Implementasi program ini akan dilakukan melalui dua skema berdasarkan pemetaan lokasi.

Pada skema pertama, sebanyak 5.466 lokasi dapat dilayani melalui jaringan listrik PLN yang sudah ada, sehingga kebutuhan dayanya dipenuhi dari sistem pembangkitan dan jaringan eksisting tanpa memerlukan pembangunan pembangkit baru.

Sementara itu, pada skema kedua, pemerintah menyiapkan pembangunan pembangkit skala kecil berbasis EBT yang bersifat off-grid untuk melayani lokasi-lokasi yang belum terjangkau jaringan listrik eksisting.

"Untuk lokasi-lokasi yang bersifat off-grid, pasokan listrik direncanakan menggunakan pembangkit berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT)" ujar Qodari dalam konferensi pers, dikutip Kamis (17/9/2026).

Ia menambahkan pembangkit EBT tersebut akan memanfaatkan sumber energi terbarukan yang paling potensial di masing-masing lokasi. Adapun total kebutuhan kapasitas pembangkit skala kecil itu diperkirakan mencapai 508 megawatt (MW) di seluruh titik off-grid.

Qodari melanjutkan, secara keseluruhan, kebutuhan biaya untuk mengalirkan listrik ke 10.068 lokasi tersebut diperkirakan mencapai Rp61,65 triliun. Seluruh pembiayaan program direncanakan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dialokasikan secara bertahap mulai 2025 hingga 2029.

Ia berharap program tersebut dapat memperluas akses masyarakat terhadap listrik yang andal sekaligus mengurangi ketergantungan rumah tangga di wilayah terpencil pada sumber energi seperti minyak tanah dan kayu bakar.

"Kehadiran listrik mendorong rumah tangga beralih dari sumber energi seperti minyak tanah dan kayu bakar, sehingga mengurangi biaya yang selama ini mereka keluarkan untuk membeli bahan bakar tersebut," katanya.

(kunthi fahmar sandy)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement