IDXChannel—Menteri Perdagangan Budi Santoso mendorong kelanjutan perundingan Indonesia-Sri Lanka Preferential Trade Agreement (ISL-PTA) ke putaran ketiga guna memperluas akses pasar bagi produk Indonesia di kawasan Asia Selatan.
Dorongan tersebut disampaikan Budi setelah bertemu dengan Menteri Tenaga Kerja sekaligus Wakil Menteri Keuangan dan Perencanaan Sri Lanka, Anil Jayantha Fernando, di Jakarta, Rabu (16/9/2026).
"Kami membahas sejumlah upaya untuk meningkatkan perdagangan antara Indonesia dan Sri Lanka. Salah satunya adalah dengan melanjutkan ISL-PTA melalui perundingan putaran ketiga. Kami optimistis perjanjian tersebut dapat bermanfaat bagi kedua negara," ujar Budi dalam keterangan resminya.
Perundingan ISL-PTA telah diluncurkan pada 14 Maret 2024. Putaran pertama berlangsung secara daring pada 3–4 April 2024, sedangkan putaran kedua digelar di Kolombo, Sri Lanka, pada 15–16 Juli 2024.
Anil mengatakan Sri Lanka saat ini tengah melakukan reviu internal terhadap ISL-PTA sebagai bagian dari proses kelanjutan perundingan. Dia berharap proses tersebut dapat segera diselesaikan sehingga kedua negara dapat mewujudkan perdagangan yang lebih terbuka dan kuat.
Selain membahas kelanjutan ISL-PTA, Anil turut menyampaikan rencana Sri Lanka mengirimkan delegasi untuk berpartisipasi dalam Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 yang akan digelar pada 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang.
Dalam rangkaian TEI, Sri Lanka juga berencana menggelar forum investasi dan mengharapkan pelaku usaha Indonesia, Kementerian Perdagangan, serta peserta TEI dapat berpartisipasi.
Sri Lanka juga menyampaikan ketertarikannya terhadap produk pupuk Indonesia untuk memenuhi kebutuhan domestik. Menanggapi hal tersebut, Budi mendorong delegasi Sri Lanka memanfaatkan momentum TEI untuk bertemu dengan pelaku industri pupuk Indonesia dan menjajaki peluang kerja sama.
"Kami berharap pertemuan tersebut nantinya dapat membuka peluang kerja sama yang lebih konkret di sektor pupuk," kata Budi.
Nilai dan Komoditas Perdagangan Indonesia-Sri Lanka
Total perdagangan Indonesia dan Sri Lanka pada Januari–Juli 2026 tercatat USD266 juta, terdiri atas ekspor USD244 juta dan impor USD22 juta.
Sementara itu, sepanjang periode 2025, perdagangan kedua negara mencapai USD530,2 juta dengan ekspor Indonesia sebesar USD476,7 juta dan impor USD53,5 juta. Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar USD423,1 juta atau sekitar Rp7,51 triliun.
Komoditas utama ekspor Indonesia ke Sri Lanka antara lain adalah kopra, kendaraan bermotor, produk besi atau baja, produk olahan lemak, serta tembakau. Sementara impor dari Sri Lanka didominasi oleh kain rajutan, produk minyak bumi, mesin pengolah tembakau, dan produk ban.
(Kidung Dhia)