IDXChannel—Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan masyarakat di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) agar mengurangi aktivitas di luar rumah selama kualitas udara masih buruk.
Dia mengatakan bahwa membatasi paparan asap adalah langkah penting untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan.
Imbauan tersebut disampaikan Budi dalam konferensi pers di Kementerian Kesehatan pada Kamis (22/10/2026). Budi mengatakan, meskipun kualitas udara di sejumlah wilayah mulai membaik, beberapa daerah masih mengalami polusi yang berbahaya.
Menurut Budi, masyarakat sebaiknya tetap berada di rumah ketika kondisi udara memburuk. Jika terpaksa beraktivitas di luar ruangan, masyarakat diminta menggunakan masker untuk mengurangi paparan polutan.
“Nomor satu itu harus pakai masker. Karena kan seperti yang saya pernah sampaikan ke teman-teman, usahakan stay di rumah,” ujar Budi.
Ia menegaskan bahwa pesan utama pemerintah bukan sekadar jenis perlindungan yang digunakan, melainkan mengurangi paparan asap sejak awal dengan membatasi aktivitas di luar ruangan.
“Mau pakai apa pun kata-katanya, stay at home. Jangan keluar kalau kondisinya jelek,” katanya.
Budi secara khusus mengingatkan agar kelompok rentan, termasuk balita, mendapat perlindungan lebih baik ketika kualitas udara memburuk.
Menurutnya, paparan polusi udara dapat menimbulkan dampak kesehatan, sehingga masyarakat tidak sebaiknya mengabaikan kondisi udara hanya karena aktivitas sehari-hari tetap harus berjalan.
Untuk mendukung upaya perlindungan masyarakat, Kemenkes menyiapkan pengiriman masker ke daerah terdampak karhutla. Budi menyebut masih terdapat kekurangan sekitar 1,6 juta masker yang akan dipenuhi secara bertahap.
Ia berharap kebutuhan tersebut dapat dipenuhi pada pekan ini hingga awal pekan berikutnya. Dalam pemaparannya, ia juga menyebut pemerintah telah mengirimkan bantuan sebelumnya dan akan melanjutkan distribusi secara lebih masif.
Pengiriman dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan di daerah yang kualitas udaranya masuk kategori merah dan hitam. Pemerintah juga berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat untuk mengetahui kekurangan logistik yang perlu segera dipenuhi.
Selain membatasi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker, Budi mengingatkan masyarakat agar memperhatikan kondisi kesehatan ketika terpapar asap.
Jika mengalami keluhan pernapasan, masyarakat dapat memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Menurutnya, kasus ISPA dan pneumonia dapat ditangani di puskesmas sesuai kondisi pasien, sementara pasien yang membutuhkan perawatan lebih lanjut akan mendapatkan penanganan sesuai kebutuhan medis.
Kemenkes juga menyiapkan obat-obatan untuk mendukung penanganan pasien di wilayah terdampak. Persediaan yang disiapkan mencakup obat untuk mengatasi gejala, obat batuk, serta multivitamin sesuai kebutuhan pelayanan kesehatan.
Budi menekankan bahwa penanganan kesehatan harus berjalan beriringan dengan upaya mengurangi paparan polusi.
“Kalau dia udah pakai masker, dia terekspos, harus dirawat, perawatan pertamanya dengan oksigenasi,” katanya.
Pemerintah juga berupaya memperkuat kesiapan fasilitas kesehatan agar masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan bisa memperoleh penanganan dengan lebih cepat.
Budi berharap kondisi udara terus membaik, terutama jika musim hujan mulai tiba. Namun, selama polusi masih berada pada tingkat berbahaya, masyarakat diminta tetap berhati-hati dan memprioritaskan keselamatan serta kesehatan.
(Nadya Kurnia)