sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Karhutla Belum Ditetapkan Jadi Bencana Nasional, Dudung: Kita Mampu Tangani

News editor Riyan Rizki Roshali
12/10/2026 21:31 WIB
Dudung mengatakan pemerintah belum menetapkan karhutla menjadi bencana nasional. Sebab, pemerintah menyatakan masih mampu mengatasinya.
Karhutla Belum Ditetapkan Jadi Bencana Nasional, Dudung: Kita Mampu Tangani. (Foto: Riyan Rizki/iNews Media Group)
Karhutla Belum Ditetapkan Jadi Bencana Nasional, Dudung: Kita Mampu Tangani. (Foto: Riyan Rizki/iNews Media Group)

IDXChannel - Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Dudung Abdurachman mengatakan pemerintah belum menetapkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menjadi bencana nasional. Sebab, pemerintah menyatakan masih mampu mengatasinya.

Pernyataan itu disampaikan Dudung usai mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (12/10/2026).

“Belum, masih mampu kita menangani,” kata Dudung.

Dudung menjelaskan, Prabowo menargetkan permasalahan karhutla bisa selesai dalam waktu yang cepat. Ia menegaskan, Prabowo menaruh fokus terhadap penanganan karhutla.

“Presiden targetnya adalah secepat mungkin. Beliau sangat konsentrasi betul masalah karhutla ini,” ujarnya.

Di dalam rapat terbatas, pemerintah memprioritaskan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi. Salah satu wilayah yang menjadi perhatian khusus pemerintah adalah kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah yang menjadi habitat satwa harus dilindungi.

"Dari Presiden ada laporan dari Kepala BNPB itu ada enam provinsi yang menjadi konsentrasi dan dua provinsi seperti Kalimantan Tengah dengan Sumatera Selatan. Kemudian ada lagi yang menjadi prioritas di Kalimantan Tengah itu adalah Tanjung Puting atau sekitar Taman Nasional karena memang ini harus dilindungi karena ada satwa di situ," imbuh Dudung.

Dudung mengungkapkan, pemadaman karhutla dilakukan melalui operasi udara dan darat. Namun, pelaksanaan operasi udara menghadapi kendala akibat kepulan asap yang terlalu tebal sehingga menyulitkan helikopter menjangkau titik-titik kebakaran.

"Kemudian hasil laporan dari Kepala BNPB bahwa heli, operasional heli ini sudah dilaksanakan dan banyak lebih dominan kepada operasi darat. Karena memang sulit untuk dijangkau dari udara karena memang asapnya terlalu tebal," katanya.

Ia menjelaskan, operasi darat tetap dilakukan meskipun sejumlah lokasi kebakaran sulit dijangkau kendaraan maupun alat berat. Kondisi geografis dan keberadaan satwa liar di kawasan tertentu juga menjadi tantangan bagi petugas di lapangan.

Ia mencontohkan kondisi di Kalimantan Tengah, khususnya kawasan yang menjadi habitat satwa liar. Karena itu, penanganan kebakaran di wilayah tersebut perlu mempertimbangkan keselamatan petugas sekaligus perlindungan ekosistem.

"Operasi daratnya begini, operasi darat itu, ya pemadaman dari darat artinya kan banyak daerah-daerah yang sulit terjangkau. Tadi laporan dari Pangdam di Kalimantan Tengah, karena di situ ada satwanya, kemudian juga ya itu ada buaya, masih ada harimau, jadi itu sulit ya untuk dilakukan," ungkap Dudung.

Dudung menegaskan, Presiden mengapresiasi seluruh personel yang terlibat dalam penanganan karhutla, mulai dari prajurit TNI dan Polri hingga unsur lainnya. Pemerintah juga mengupayakan penanganan secara maksimal agar kebakaran dapat segera dikendalikan.

"Intinya adalah beliau sangat mengapresiasi kepada seluruh anggota yang terlibat di dalam pemadaman," imbuhnya.

Presiden, lanjut dia, meminta untuk pemerintah daerah terus mengampanyekan secara masif pencegahan karhutla.

“Beliau juga menyampaikan untuk kampanye yang masih tentang pencegahan karhutla ini. Sehingga tadi juga dihadiri oleh para gubernur di 6 daerah, kemudian Pangdam, Kapolda, BMKG dan BNPB,” kata dia. (Febrina Ratna Iskana)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement