Maka dari itu, untuk menekan angka kasus tersebut, Kemenkes mengusung dua langkah utama, yaitu preventif (pencegahan) dan promotif (edukasi). Langkah paling mendasar dimulai dari kebiasaan harian menyikat gigi secara benar dan pada waktu yang tepat.
"Preventifnya bagaimana? Supaya email giginya enggak rusak, lapisan giginya enggak rusak, mereka harus menyikat gigi dengan benar. Kemudian yang kedua, waktu menyikat gigi juga harus benar. Itu biasanya kita anjurkan sesudah sarapan dan sebelum tidur, supaya giginya bersih, tidak tersisa makanan," tutur dia.
Tak hanya itu, Kemenkes juga meluncurkan inisiasi edukatif yang melibatkan siswa secara langsung melalui Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) lewat konsep 'Detektif Gigi Berlubang'. Pemerintah bahkan telah menyiapkan modul kurikulum khusus untuk melatih anak-anak saling memantau kesehatan gigi teman sebayanya.
"Anak-anak di UKS diajarkan untuk menjadi 'Detektif Gigi Berlubang' supaya mereka bisa periksa teman-temannya. Kita ajarin, ada kurikulumnya, kita udah buat modul kurikulum untuk sekolah dari Kemenkes untuk lihat, 'Oh ini giginya masih lubang'. Nanti kalau ketemu gigi yang berlubang, dilaporkan ke gurunya, gurunya bisa melakukan rujukan ke Puskesmas terdekat," pungkas Dante.
(Nadya Kurnia)