Selain depresi, individu neurodivergen juga perlu diperhatikan. Individu tersebut termasuk individu dengan ADHD dan disleksia. ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi fokus dan kontrol diri, sedangkan disleksia merupakan gangguan belajar spesifik yang memengaruhi kemampuan membaca dan menulis.
Maria menjelaskan bahwa kondisi tersebut bukanlah bentuk kekurangan, kemalasan, ataupun akibat kesalahan pola asuh, melainkan keragaman cara kerja otak yang perlu dipahami dan diterima oleh lingkungan sekitar. Terutama keluarga, agar individu yang mengalaminya memperoleh dukungan sesuai kebutuhannya.
Guna mengoptimalkan akses layanan kesehatan tersebut, Kementerian Kesehatan telah menyiapkan sejumlah fasilitas dan program guna memperkuat deteksi dini, penanganan, serta dukungan bagi masyarakat.
Di antaranya, 6.549 puskesmas atau 64 persen dari seluruh puskesmas di Indonesia telah mampu memberikan pelayanan kesehatan jiwa. Capaian ini diklaim meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kemenkes menargetkan seluruh puskesmas mampu memberikan pelayanan kesehatan jiwa dalam dua tahun ke depan.
Di sisi lain, skrining melalui Program Cek Kesehatan Gratis juga terus digalakkan. Kemenkes telah melakukan skrining kesehatan jiwa terhadap 71,86 juta penduduk berusia di atas 7 tahun. Hasilnya, indikasi gejala depresi tertinggi ditemukan pada kelompok ibu hamil dan ibu nifas, yakni sebesar 7,1 persen, serta kelompok usia sekolah dan remaja sebesar 2,3 persen.