sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Valuasi Murah Dinilai Tak Cukup, Asing Masih Menanti Stabilitas

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
12/10/2026 06:30 WIB
Arus keluar investor asing dari pasar saham Indonesia terus berlanjut meski valuasi mulai menarik dan kinerja sejumlah sektor menunjukkan perbaikan.
Valuasi Murah Dinilai Tak Cukup, Asing Masih Menanti Stabilitas. (Foto: Magnific)
Valuasi Murah Dinilai Tak Cukup, Asing Masih Menanti Stabilitas. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Arus keluar investor asing dari pasar saham Indonesia terus berlanjut meski valuasi mulai menarik dan kinerja sejumlah sektor menunjukkan perbaikan.

Kondisi tersebut menunjukkan, pemulihan sentimen asing masih membutuhkan stabilitas kebijakan, kepastian fiskal, serta kejelasan terkait klasifikasi pasar Indonesia.

Analis Indo Premier Sekuritas Jovent Muliadi dan Shierly Elizabeth dalam riset yang terbit pada 6 Oktober 2026 mencatat, investor asing membukukan foreign outflow sebesar Rp106,9 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026.

Nilai tersebut setara dengan sekitar 1 persen dari kapitalisasi pasar. Pada kuartal III-2026 saja, arus keluar asing mencapai Rp19,1 triliun.

Dengan demikian, Indonesia telah mencatat tiga tahun berturut-turut arus keluar asing.

Secara akumulatif, foreign outflow sejak 2024 telah mencapai sekitar Rp179 triliun atau setara USD10 miliar, jauh melampaui arus keluar sebesar Rp61 triliun yang terjadi pada era pandemi Covid-19.

Sektor perbankan masih menjadi sumber utama arus keluar asing dengan nilai Rp62,8 triliun sepanjang sembilan bulan 2026. Namun, tekanan tersebut relatif mereda pada kuartal III-2026 dengan arus keluar hanya Rp1,6 triliun.

Setelah perbankan, arus keluar asing terbesar terjadi pada sektor utilitas sebesar Rp9,4 triliun, batu bara Rp8,4 triliun, dan barang konsumsi primer sebesar Rp4,1 triliun.

Di tengah tekanan tersebut, kinerja saham pada kuartal III-2026 justru menunjukkan bahwa fundamental masih menjadi faktor penting dalam menentukan pergerakan harga.

Sektor komoditas menjadi penggerak utama pada kuartal tersebut. Saham CPO naik 32,3 persen secara kuartalan, diikuti batu bara yang menguat 31 persen dan logam sebesar 27 persen.

Sebaliknya, teknologi dan properti menjadi sektor dengan kinerja terlemah.

Menurut Jovent dan Shierly, penguatan saham komoditas sejalan dengan pertumbuhan laba yang solid. Laba sektor batu bara tumbuh 80 persen secara kuartalan meski masih turun 11 persen secara tahunan.

Sementara itu, laba CPO meningkat 49 persen secara kuartalan dan 16 persen secara tahunan, sedangkan laba sektor logam naik 2 persen secara kuartalan dan 53 persen secara tahunan.

Perbankan juga mencatat kenaikan harga saham sebesar 8 persen secara kuartalan, sejalan dengan laba yang masih tumbuh 16 persen secara tahunan pada kuartal II-2026, meski turun 2 persen secara kuartalan.

Sebaliknya, sektor dengan pertumbuhan laba yang lebih lemah cenderung mencatat kinerja saham yang kurang baik.

Saham sektor barang konsumsi primer turun 6 persen secara kuartalan, sementara sektor perunggasan atau poultry melemah 8 persen, sejalan dengan lemahnya pertumbuhan laba.

"Ini menunjukkan bahwa laba masih memainkan peran besar dalam pergerakan harga saham, berlawanan dengan anggapan bahwa pasar sepenuhnya digerakkan oleh sentimen," tulis Jovent dan Shierly.

Menariknya, penguatan pasar pada kuartal III-2026 sepenuhnya ditopang arus dana domestik. Arus asing justru masih mencatat outflow sekitar Rp19 triliun atau sekitar USD1,1 miliar.

Sektor tembakau menjadi satu-satunya sektor yang mencatat arus masuk asing, yakni sekitar Rp700 miliar pada kuartal III-2026.

Namun, harga saham sektor tersebut tetap melemah 4 persen secara kuartalan meski laba relatif datar.

Analis menilai pelemahan tersebut kemungkinan berkaitan dengan perubahan Menteri Keuangan yang dipersepsikan membawa kebijakan lebih ketat terhadap sektor tembakau.

Valuasi Menarik, Sentimen Asing Belum Pulih

Di tengah berlanjutnya arus keluar asing, valuasi saham Indonesia sebenarnya sudah berada pada level yang relatif menarik.

JCI saat ini diperdagangkan pada 10 kali price to earnings (P/E), jauh di bawah rata-rata 10 tahun sebesar 16,7 kali. Sementara rasio price to book value (P/B) berada di 1,6 kali dibandingkan rata-rata 10 tahun sebesar 2,2 kali.

Sebagian besar sektor juga masih diperdagangkan di bawah rata-rata historis P/E maupun P/B dalam lima hingga 10 tahun terakhir.

Perbankan menjadi salah satu contoh. Sektor tersebut saat ini diperdagangkan pada 1,5 kali forward P/B 2026 dan 8,1 kali P/E, dibandingkan rata-rata 10 tahun masing-masing sebesar 2,2 kali dan 14,3 kali. Keduanya bahkan berada di bawah level minus satu standar deviasi.

Posisi investor asing juga masih underweight terhadap bobotnya di indeks MSCI pada sektor perbankan, telekomunikasi, dan otomotif.

Kondisi ini menunjukkan masih terdapat ruang bagi investor asing untuk meningkatkan eksposur apabila sejumlah hambatan mulai teratasi.

Namun, berdasarkan percakapan dengan sejumlah investor asing, terdapat setidaknya tiga persoalan yang perlu diselesaikan sebelum sentimen terhadap Indonesia berbalik lebih positif.

Pertama, masih terdapat tekanan alias overhang terkait klasifikasi Indonesia oleh MSCI.

Kedua, investor membutuhkan stabilitas kebijakan setelah dikejutkan oleh pengumuman terkait Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), meskipun implementasi kebijakan tersebut sejauh ini dinilai lebih baik dari ekspektasi.

Ketiga, investor masih mencermati stabilitas nilai tukar dan fiskal di tengah harga minyak dunia yang berada pada level tinggi. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5 6
Advertisement
Advertisement