Secara strategis, aksi korporasi ini merupakan bagian integral dari peta jalan transformasi TLKM 3.0, khususnya pada pilar ketiga yakni pelepasan nilai. Penyatuan aset infrastruktur pasif ini diproyeksikan membuka ruang komersialisasi yang lebih luas bagi pelaku industri telekomunikasi nasional melalui skema berbagi infrastruktur.
"Inisiatif ini bagian implementasi strategi TLKM 3.0 pilar ketiga tentang unlocking value untuk monetisasi aset bernilai tinggi dan mengoptimalkan pengelolaan melalui InfraNexia. Dengan lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan Telkom kini resmi dikelola InfraNexia, peluang memperluas infrastructure sharing dan kemitraan strategis terbuka semakin lebar untuk mempercepat pemerataan konektivitas digital di Indonesia," kata Nanang.
Di samping memonetisasi infrastruktur jaringan, pemisahan bisnis tahap kedua ini turut memperkuat empat pilar transformasi Telkom secara menyeluruh, mulai dari tata kelola, keunggulan operasional, hingga penataan portofolio bisnis. Reorganisasi ini memfasilitasi perubahan model bisnis Telkom menuju perusahaan induk strategis yang lebih adaptif terhadap perkembangan industri telekomunikasi global.
"Langkah ini merupakan transisi Telkom dari operating holding menjadi strategic holding dengan model HoldCo dan OpCo agar masing-masing entitas bergerak lebih agile dengan lini usaha yang terkonsentrasi. Ke depan, kami berharap InfraNexiadapat menjadi katalis sumber pendapatan Telkom Group, menciptakan pertumbuhan berkelanjutan, serta memberikan kontribusi kuat terhadap penciptaan nilai bagi pemegang saham," kata Nanang.
(DESI ANGRIANI)