IDXChannel - Saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) bergerak melemah pada perdagangan Kamis (8/10/2026), sehari setelah terungkap bahwa masing-masing pengendalinya menggadaikan seluruh saham kepemilikan kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.16 WIB, saham JARR merosot 6,12 persen ke Rp3.220 per unit dengan nilai transaksi mencapai Rp24,91 miliar.
Setali tiga uang, saham PGUN terkoreksi 0,82 persen ke Rp9.100 per unit.
Sementara itu, saham PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE), perusahaan milik pengusaha Samsudin Andi Arsyad alias Haji Isam lainnya, masih disuspensi Bursa.
Di sisi lain, saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK), yang juga terafiliasi dengan Haji Isam, turun 0,43 persen ke Rp466 per saham.
Dalam keterbukaan informasi, Rabu (7/10), pengendali JARR, PT Eshan Agro Sentosa, menggadaikan seluruh saham yang dimilikinya di JARR kepada Bank Mandiri.
Berdasarkan keterbukaan informasi perseroan, gadai saham tersebut dilakukan pada 30 September 2026 sebagai bagian dari pengikatan jaminan atas fasilitas kredit yang diperoleh afiliasi JARR dari Bank Mandiri.
Eshan Agro Sentosa menjaminkan 7.997.556.204 saham JARR atau setara 100 persen dari total kepemilikannya di perseroan. Bank Mandiri bertindak sebagai penerima gadai.
“Tujuan transaksi sebagai jaminan atas fasilitas kredit yang diperoleh afiliasi Perseroan,” tulis Direktur Utama JARR Indra Irawan dalam keterbukaan informasi.
Sebagai ilustrasi, dengan menggunakan harga penutupan saham JARR pada 7 Oktober 2026 sebesar Rp3.430 per saham, nilai pasar seluruh saham yang dimiliki Eshan Agro Sentosa mencapai sekitar Rp27,43 triliun.
Perhitungan tersebut semata-mata merupakan ilustrasi berdasarkan harga pasar dan bukan nilai transaksi maupun nilai jaminan yang diungkapkan perseroan.
JARR menegaskan gadai saham tersebut tidak mengakibatkan perubahan pengendalian. Eshan Agro Sentosa tetap menjadi pengendali JARR dan transaksi tersebut tidak menyebabkan dilusi kepemilikan maupun perubahan jumlah modal ditempatkan dan disetor perseroan.
Hal serupa terjadi di PGUN.
Pengendali PGUN, PT Araya Agro Lestari, menggadaikan seluruh saham kepemilikannya di perseroan kepada Bank Mandiri pada 30 September 2026 sebagai bagian dari pengikatan jaminan atas fasilitas kredit yang diperoleh afiliasi PGUN.
Jumlah saham yang dijaminkan mencapai 2.205.667.896 saham atau setara 100 persen kepemilikan Araya Agro Lestari di PGUN. Bank Mandiri juga bertindak sebagai penerima gadai.
“Tujuan transaksi sebagai jaminan atas fasilitas kredit yang diperoleh afiliasi Perseroan,” tulis Direktur PGUN Tamlikho dalam keterbukaan informasi.
Dengan menggunakan harga penutupan PGUN pada 7 Oktober 2026 sebesar Rp9.175 per saham, nilai pasar seluruh kepemilikan Araya Agro Lestari mencapai sekitar Rp20,24 triliun.
Nilai tersebut merupakan perhitungan ilustratif berdasarkan harga pasar dan bukan nilai transaksi maupun nilai jaminan yang diungkapkan perseroan.
PGUN menegaskan transaksi tersebut tidak mengakibatkan perubahan pengendalian. Araya Agro Lestari tetap menjadi pengendali PGUN, sementara gadai saham tidak menyebabkan dilusi kepemilikan maupun perubahan jumlah modal ditempatkan dan disetor perseroan.
Di sisi lain, perhatian terhadap kelompok usaha Haji Isam juga mengemuka setelah terjadi transaksi jumbo saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) di pasar negosiasi BEI pada Rabu (7/10/2026).
Transaksi tersebut mencapai 10.084.088.370 saham pada harga Rp2.588 per saham, dengan nilai sekitar Rp26,10 triliun. Berdasarkan data BEI, transaksi crossing (tutup sendiri) tersebut tercatat sebanyak tiga kali dengan harga yang sama.
Besarnya volume transaksi tersebut menarik perhatian karena jumlahnya persis dengan saham BYAN yang akan diakuisisi oleh PT Jhonlin Baratama, perusahaan milik Haji Isam.
Dalam keterbukaan informasi pada Selasa (6/10/2026), BYAN mengungkapkan Jhonlin Baratama menambah jumlah saham yang akan diakuisisi menjadi 10.084.088.370 saham dari sebelumnya 10.000.000.500 saham. Artinya, terdapat tambahan sekitar 83,99 juta saham.
Perubahan tersebut tertuang dalam perubahan Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) yang ditandatangani pada 1 Oktober 2026.
Dengan harga transaksi di pasar negosiasi Rp2.588 per saham, nilai 10.084.088.370 saham tersebut secara matematis mencapai sekitar Rp26,10 triliun, atau hampir sama dengan nilai transaksi jumbo BYAN yang tercatat di BEI pada Rabu.
Meski demikian, transaksi akuisisi BYAN oleh Jhonlin Baratama masih bergantung pada pemenuhan sejumlah kondisi pendahuluan sebagaimana diatur dalam CSPA. Setelah seluruh persyaratan terpenuhi dan transaksi diselesaikan, Jhonlin Baratama akan memiliki 10.084.088.370 saham BYAN.
Dari sisi operasional, BYAN memperoleh tambahan kuota produksi sekitar 15 juta-20 juta ton untuk tiga anak usaha setelah revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 disetujui. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.