Menurut data BPS, ekspor Indonesia meningkat terutama didorong oleh sejumlah komoditas a.l. nikel yang naik 51,67 persen secara tahunan dan alumunium yang meroket hingga 206,78 persen secara tahunan pada Agustus 2026.
Kemudian, Indeks Harga Konsumen (IHK) kembali meningkat pada September 2026. Kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi dan sejumlah bahan pangan menjadi salah satu sumber tekanan terbesar.
IHK tercatat mengalami inflasi sebesar 0,30 persen secara bulanan (mtm) pada September 2026. Adapun, secara year on year, inflasi sebesar 3,28 persen.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.960-Rp18.030 per USD.
(Dhera Arizona)