IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Kamis (24/9/2026), turun 98 poin atau sekitar 0,55 persen ke level Rp17.916 per USD.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan sentimen eksternal di mana konflik Iran dan Amerika Serikat (AS) masih mendominasi. Namun, diplomasi harus terus berjalan yang disampaikan seorang pejabat senior Iran, setelah presiden Iran menyatakan di hadapan Majelis Umum PBB bahwa Teheran tidak akan pernah menyerah pada tekanan AS.
"Teheran sedang meninjau tanggapan Washington terhadap usulan perdamaiannya, yang memprioritaskan pencabutan blokade angkatan laut AS di pelabuhan-pelabuhan Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz, ujar pejabat tersebut," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade angkatan laut Washington terhadap Iran telah dibahas dalam pembicaraan tidak langsung pada hari Selasa, kata pejabat itu.
Sebelumnya pada Rabu, kepala keamanan Iran, Mohsen Rezaei, menyatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali selama syarat-syarat Iran belum dipenuhi. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kepada wartawan pada Rabu bahwa kesepakatan dengan Iran akan membutuhkan kerja keras dalam jangka waktu tertentu, seraya menambahkan bahwa Trump juga memiliki opsi militer.
Sementara itu, pengambil kebijakan The Fed memberikan nada hawkish dengan Gubernur Michael Barr pada Rabu mengatakan bahwa “penyesuaian kebijakan lebih lanjut mungkin diperlukan” untuk mengendalikan inflasi. Presiden Fed Richmond Tom Barkin dan Presiden Fed Boston Susan Collins keduanya mendukung kenaikan suku bunga baru-baru ini, dengan alasan tekanan inflasi yang terus berlanjut.
Kemungkinan bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuannya di Oktober adalah sekitar 69,7 persen, menurut alat CME FedWatch, naik dari 48,7 persen minggu lalu.
Dari sentimen dalam negeri, para ekonom memperingatkan langkah Bank Indonesia pada September untuk mempertahankan suku bunga acuan tetap stabil selama tiga bulan berturut-turut mungkin hanya merupakan jeda sementara, mengingat masih tingginya risiko eksternal akibat imbal hasil global yang meningkat, harga minyak yang fluktuatif, serta tekanan geopolitik.
Selain itu, para pembuat kebijakan juga menghadapi tantangan berupa perlambatan pertumbuhan, belanja rumah tangga yang lesu, dan sentimen pasar yang rentan, terutama karena nilai tukar rupiah masih rawan terhadap kembali menguatnya dolar AS dan arus keluar modal asing.
Jika tekanan terhadap mata uang kawasan terus berlanjut, maka BI perlu menjaga agar pelemahan rupiah tidak berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih persisten. Kenaikan harga minyak di atas USD100 per barel berpotensi menekan mata uang melalui meningkatnya biaya energi. Terlebih, adanya fenomena El Nino yang juga meningkatkan risiko gangguan produksi dan pasokan pangan.
Meski demikian, perekonomian domestik Indonesia menunjukkan daya tahan yang mengesankan. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026 mampu bertengger di kisaran 4,9-5,7 persen.
Motor penggerak utama berasal dari konsumsi rumah tangga yang tetap kokoh, ditopang oleh stimulus fiskal pemerintah serta menguatnya keyakinan dan ekspektasi pendapatan masyarakat.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.910-Rp18.000 per USD.
(NIA DEVIYANA)