Belanja negara yang lebih banyak dari pendapatan negara menyebabkan defisit APBN mencapai Rp319 triliun atau setara 1,24 persen dari PDB. Defisit di bulan lalu, (Agustus 2026) 0,9 persen. Hari ini, per akhir September 1,2 persen.
Sedangkan target defisit di akhir tahun 2,8 persen. Beban APBN bertambah Rp6 Triliun setiap harga minyak naik USD1 per barel keseimbangan primer tercatat mencapai Rp125,5 triliun. Sementara itu, target keseimbangan primer sepanjang tahun didesain defisit sebesar Rp89,7 triliun. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu maka tampak penurunan cukup tajam defisit APBN.
Pada akhir Agustus 2025, defisit APBN mencapai Rp321,6 triliun atau setara 1,35 persen dari PDB. Artinya, defisit APBN September 2026 yang sebesar Rp319 triliun turun 14,13 persen dibandingkan realisasi APBN September 2025 (Rp371,5 triliun). Sebagai informasi, pemerintah mendesain defisit APBN 2026 setahun penuh sebesar rRp689,1 triliun atau setara 2,68 persen terhadap PDB.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.890-Rp17.950 per USD. Sedangkan untuk perdagangan pekan depan diperkirakan berada di rentang Rp17.780-Rp18.060 per USD.
(Dhera Arizona)