IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada perdagangan Kamis (8/10/2026), dengan pelemahan lebih dari 1 persen seiring tekanan di sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk emiten konglomerasi dan bank pelat merah.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 14.09 WIB, IHSG turun 1,34 persen ke level 6.064,49.
Nilai transaksi tercatat mencapai Rp8,54 triliun, dengan transaksi di pasar negosiasi mencapai Rp1,02 triliun. Sementara volume perdagangan mencapai 44,99 miliar saham.
Sebanyak 534 saham melemah, 169 saham menguat, dan 260 saham lainnya stagnan.
Dengan posisi tersebut, IHSG melemah tipis 0,10 persen dalam sepekan dan telah terkoreksi 8,37 persen dalam sebulan terakhir.
Tekanan datang dari sejumlah sektor utama. MNC Sekuritas mencatat sektor IDX Energy turun 2,51 persen, IDX Infrastructure melemah 2,36 persen, dan IDX Industry terkoreksi 2,05 persen.
Dari sisi saham, tekanan juga terlihat pada sejumlah emiten dengan kapitalisasi pasar besar milik konglomerat.
BREN menjadi salah satu pemberat dengan penurunan 5,61 persen ke Rp2.690 per unit. Saham AMMN juga turun 5,52 persen ke Rp4.280, sedangkan MORA terkoreksi 3,61 persen ke Rp4.800.
Nama-nama lainnya, saham TPIA melemah 2,61 persen ke Rp1.680, BRPT turun 2,45 persen ke Rp1.395, DSSA terkoreksi 1,77 persen ke Rp1.110, dan DNET turun 1,75 persen ke Rp9.800.
Saham energi berkapitalisasi besar lainnya, BYAN, juga melemah 1,39 persen ke Rp12.375.
Tekanan juga datang dari kelompok bank pelat merah. BMRI turun 1,46 persen ke Rp4.040, BBRI melemah 1,27 persen ke Rp3.100, sementara BBNI terkoreksi 0,58 persen ke Rp3.420.
Di luar kelompok tersebut, saham TLKM juga turun 0,87 persen ke Rp2.290.
Sementara itu, saham GOTO, CUAN, BUMI, BMRI, dan PTRO sebelumnya dicatat MNC Sekuritas sebagai emiten yang membebani IHSG berdasarkan nilai transaksi.
MNC Sekuritas menyebut pelemahan IHSG sejalan dengan mayoritas bursa regional Asia yang terkoreksi setelah harga minyak mentah meningkat ke kisaran USD90-USD103 per barel.
Kenaikan yield obligasi pemerintah AS juga dinilai berpotensi memperketat kondisi likuiditas.
Dari eksternal, harga minyak Brent naik sekitar 3 persen ke kisaran USD103,2 per barel pada perdagangan intraday Kamis.
Kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan, menyusul kabar rencana militer AS untuk kembali menyerang Iran serta penghentian sebagian produksi minyak AS akibat badai.
Dari dalam negeri, sentimen konsumen juga menunjukkan sedikit pelemahan.
Bank Indonesia (BI) mencatat indeks keyakinan konsumen turun secara bulanan menjadi 118,1 pada September 2026 dari 118,5 pada Agustus 2026. Meski demikian, level tersebut masih lebih tinggi dibandingkan 115 pada September 2025.
Penurunan indeks terutama dipengaruhi oleh melemahnya subindeks penghasilan saat ini, ketersediaan lapangan kerja, dan ekspektasi kegiatan usaha.
Di sisi lain, subindeks pembelian barang tahan lama, ekspektasi penghasilan, serta ekspektasi ketersediaan lapangan kerja tercatat meningkat.
Dari sisi teknikal, MNC Sekuritas menilai IHSG masih berada dalam fase downtrend. IHSG diperkirakan sedang membentuk bagian dari wave c dari wave (y), dengan area koreksi terdekat di 6.000-6.025.
Apabila IHSG menembus level 5.973, indeks berpotensi menguji area 5.850-5.911. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.