sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

IHSG Diproyeksi Variatif, Pasar Cermati Review MSCI hingga Inflasi AS 

Market news editor Desi Angriani
13/08/2026 09:38 WIB
IHSG diproyeksi bergerak variatif pada perdagangan Kamis (13/8/2026) di rentang 6.350-6.450.
IHSG Diproyeksi Variatif, Pasar Cermati Review MSCI hingga Inflasi AS (Foto: dok Freepik)
IHSG Diproyeksi Variatif, Pasar Cermati Review MSCI hingga Inflasi AS (Foto: dok Freepik)

IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi bergerak variatif pada perdagangan Kamis (13/8/2026) di rentang 6.350-6.450. 

Analis Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih menilai, dari dalam negeri sentimen pasar salah satunya berasal dari hasil MSCI August 2026 Index Review yang sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar.

Dalam review tersebut, terdapat dua saham yang keluar dari MSCI Global Standard Indexes dan sembilan saham yang keluar dari MSCI Small Cap Indexes.

Menurut Ratih, pasar merespons positif hasil review tersebut seiring dengan langkah Bursa Efek Indonesia (BEI) memperketat tata kelola pasar melalui penerapan High Shareholding Concentration (HSC), batas minimum free float 15 persen, reklasifikasi 39 kategori investor, serta peningkatan transparansi kepemilikan saham di atas 1 persen.

"Fokus MSCI saat ini melihat konsistensi implementasi kebijakan tersebut, mengingat proses penyesuaian (clean-up) konstituen sebagian besar telah dieksekusi pada review indeks edisi Mei 2026," ujar Ratih dalam risetnya, Kamis (13/8/2026).

Meski demikian, bobot Indonesia dalam MSCI Global Standard Index Emerging Markets masih mengalami penurunan. Berdasarkan perhitungan Free Float Adjusted Market Capitalization (FFMC), bobot Indonesia tercatat sebesar 0,44 persen per 12 Agustus 2026.

Posisi tersebut turun dibandingkan bobot Indonesia pada rebalancing MSCI edisi Maret 2026 yang mencapai 0,92 persen

Dari pasar global, pergerakan bursa Wall Street berlangsung bervariasi pada perdagangan Rabu (12/8/2026). Indeks Nasdaq menguat 0,54 persen, sedangkan Dow Jones terkoreksi tipis 0,04 persen.

Sentimen pasar turut dipengaruhi data inflasi Amerika Serikat. Inflasi berdasarkan Consumer Price Index (CPI) AS pada Juli 2026 tercatat 3,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), sesuai dengan ekspektasi pasar dan lebih rendah dibandingkan 3,5 persen pada bulan sebelumnya.

Perkembangan inflasi tersebut menjadi salah satu indikator yang dicermati investor dalam melihat arah kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve.

Sementara itu, harga minyak mentah Brent terkoreksi 1,16 persen secara intraday menjadi sekitar USD87 per barel pada Kamis (13/8/2026), setelah mencatat kenaikan selama enam hari perdagangan berturut-turut.

International Energy Agency (IEA) memperkirakan pertumbuhan permintaan minyak dunia pada 2026 akan melambat hingga 1,6 juta barel per hari. Proyeksi tersebut 510 ribu barel per hari lebih rendah dibandingkan estimasi sebelumnya.

Menurut Ratih, pelemahan permintaan minyak tersebut sejalan dengan gangguan pasokan serta perlambatan perekonomian global.

Di kawasan Asia Pasifik, pasar saham justru bergerak menguat pada perdagangan Kamis (13/8/2026). Indeks KOSPI Korea Selatan melonjak 3,6 persen, sedangkan Nikkei 225 Jepang menguat 1,2 persen.

(DESI ANGRIANI)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement