sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Harga Emas Turun Lebih dari 1 Persen, Data Inflasi AS Dongkrak Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
15/10/2026 06:49 WIB
Harga emas dunia turun lebih dari 1 persen pada perdagangan Rabu (14/10/2026), memperpanjang pelemahan untuk hari ketiga berturut-turut.
Harga Emas Turun Lebih dari 1 Persen, Data Inflasi AS Dongkrak Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga. (Foto:  Magnific)
Harga Emas Turun Lebih dari 1 Persen, Data Inflasi AS Dongkrak Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Harga emas dunia turun lebih dari 1 persen pada perdagangan Rabu (14/10/2026), memperpanjang pelemahan untuk hari ketiga berturut-turut.

Penurunan terjadi setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) bulan ini.

Harga emas spot turun 1,35 persen menjadi USD4.104,79 per troy ons, sekaligus menjadi level terendah sejak 7 Oktober 2026.

Indeks dolar AS menguat 0,5 persen, membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun juga meningkat.

“Pada titik ini, data tersebut mengindikasikan The Fed lebih mungkin menaikkan suku bunga,” ujar Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger, seperti dikutip Reuters, mengacu pada data indeks harga konsumen (CPI) yang lebih tinggi dari perkiraan dan masih berada di atas target The Fed.

“Akibatnya, dolar menguat dan tekanan terhadap pasar emas bertambah,” katanya.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan CPI naik 0,6 persen pada September 2026 setelah meningkat 0,4 persen pada Agustus.

Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini sekitar 42 persen, naik dari sekitar 22 persen sebelum data inflasi dirilis.

Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan mencapai 93 persen berdasarkan CME FedWatch Tool.

Emas biasanya dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Namun, suku bunga yang lebih tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Wakil Ketua The Fed untuk Pengawasan Michelle Bowman mengatakan bank sentral masih memiliki waktu untuk mengamati perkembangan pasar keuangan dan ekonomi setelah kenaikan suku bunga pada September sebelum memutuskan langkah kebijakan berikutnya.

Di sisi lain, harga minyak naik pada Rabu setelah terjadi serangan terhadap kantor pusat perusahaan minyak milik negara Arab Saudi.

Pejabat Iran juga mengatakan kepada Reuters bahwa negaranya mengerahkan taktik baru untuk menargetkan kapal, dengan tujuan menjaga harga minyak tetap tinggi sekaligus memengaruhi pemilu sela AS.

Meski tekanan jangka pendek masih membayangi, emas berpotensi kembali mendapat dukungan dalam jangka panjang dari pembelian bank sentral yang tetap kuat serta meningkatnya kekhawatiran terhadap utang AS dan beban bunga yang terus meningkat.

“Dalam jangka panjang, emas kembali seharusnya mendapat manfaat dari pembelian bank sentral yang tetap kuat dan kekhawatiran baru mengenai utang AS serta kenaikan beban bunganya,” kata analis Julius Baer Carsten Menke. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement