sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Harga Emas Jatuh Lebih dari 1 Persen, Sinyal Hawkish The Fed Dongkrak Dolar AS

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
24/09/2026 06:39 WIB
Harga emas turun lebih dari 1 persen ke level terendah hampir sepekan pada Rabu (23/9/2026), tertekan sinyal hawkish dari pejabat Federal Reserve (The Fed),
Harga Emas Jatuh Lebih dari 1 Persen, Sinyal Hawkish The Fed Dongkrak Dolar AS. (Foto: Magnific)
Harga Emas Jatuh Lebih dari 1 Persen, Sinyal Hawkish The Fed Dongkrak Dolar AS. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga emas turun lebih dari 1 persen ke level terendah hampir sepekan pada Rabu (23/9/2026), tertekan sinyal hawkish dari pejabat Federal Reserve (The Fed) yang memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga.

Kondisi tersebut mendorong dolar Amerika Serikat (AS) ke level tertinggi dalam dua bulan dan menekan emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Mengutip Reuters, harga emas spot turun 1,63 persen menjadi USD4.287,41 per troy ons. Harga emas sempat menyentuh level terendah sejak 17 September 2026.

“Emas tertekan oleh dolar yang menguat. Pernyataan pejabat The Fed setelah rapat FOMC cukup hawkish. Karena itu, pasar mulai memperkirakan setidaknya satu kali lagi kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun. Hal tersebut menekan harga emas,” ujar Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, seperti dikutip Reuters.

Dolar AS berada di level tertinggi dalam dua bulan. Penguatan dolar membuat emas yang dihargai dalam greenback menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Para pejabat The Fed juga menyampaikan nada hawkish sepanjang pekan ini.

Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee mengatakan bank sentral AS mungkin perlu menganggap guncangan energi saat ini sebagai sumber inflasi yang persisten, alih-alih memperkirakan tekanan tersebut mereda dengan sendirinya.

Presiden The Fed Richmond Tom Barkin dan Presiden The Fed Boston Susan Collins juga menyatakan dukungan terhadap kenaikan suku bunga pada pekan lalu, di tengah kekhawatiran terhadap inflasi.

Pernyataan tersebut menyusul pandangan sejumlah pejabat The Fed lainnya yang memperluas kekhawatiran mereka terhadap tekanan inflasi.

Meski emas secara tradisional menjadi aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga dapat mengurangi daya tarik emas dibandingkan aset yang memberikan imbal hasil.

Pelaku pasar kini melihat peluang 77 persen untuk kenaikan suku bunga pada Oktober dan 95 persen untuk kenaikan pada Desember, berdasarkan CME FedWatch Tool.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump pada Selasa (22/9/2026) memperingatkan bahwa dirinya dapat “memusnahkan” Iran.

Harga minyak mentah Brent sempat naik di atas USD100 per barel, meski tetap berada di dekat level terendah dalam dua pekan.

Harga emas hampir bergerak berlawanan dengan harga minyak sejak perang AS-Israel dengan Iran pecah pada akhir Februari.

Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran inflasi dan potensi kebijakan moneter yang lebih ketat dari bank sentral, sehingga turut membebani emas. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement