Situasi tersebut memicu eskalasi serangan balasan di berbagai daerah strategis penyokong energi minyak dan gas alam, hingga menyasar kota-kota besar seperti Kyiv.
"Kita tahu bahwa perang Rusia dan Ukraina itu kemungkinan besar akan lama. Ya bisa saja 3-4 tahun ke depan masih akan terjadi perang karena permasalahan wilayah Ukraina yang dikuasai oleh Rusia," kata Ibrahim.
Sementara itu, perselisihan militer di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran turut memicu distruksi pada jalur perdagangan vital dunia. Hambatan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, yang kini tercatat hanya dilintasi sekitar 7 hingga 10 kapal, turut mengerek kenaikan harga komoditas minyak mentah.
"Artinya apa, bahwa perang antara Amerika dan Iran ini masih akan terus panjang sehingga membuat harga minyak mentah terus mengalami kenaikan yang cukup signifikan," pungkas Ibrahim.
(Rahmat Fiansyah)