IDXChannel - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyoroti penurunan pendapatan dan margin laba bruto PT United Tractors Tbk (UNTR) pada semester I-2026.
Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh anjloknya penjualan setara emas PT Agincourt Resources (PTAR) serta melemahnya kinerja segmen alat berat dan pertambangan batu bara termal dan metalurgi.
Manajemen UNTR menjelaskan, pendapatan bersih konsolidasian hingga Juni 2026 mencapai Rp58,3 triliun, turun 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Penurunan pendapatan terutama disebabkan penjualan setara emas PTAR yang lebih rendah setelah perusahaan menghentikan sementara operasional hingga pertengahan Mei 2026," tulis manajemen dalam surat kepada Bursa, Kamis (8/10/2026)
Selain itu, kinerja segmen alat berat serta pertambangan batu bara termal dan metalurgi turut tertekan akibat alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional 2026 yang lebih rendah.
Hingga semester I-2026, PTAR mencatat penjualan setara emas sebesar 15.000 ons, anjlok 87 persen secara tahunan. Namun, penjualan emas diperkirakan membaik pada semester II-2026 dengan target mencapai sekitar 45.000 ons.
Penjualan Batu Bara Diproyeksi Membaik
Dari segmen batu bara, UNTR mencatat penjualan batu bara termal dan metalurgi dari tambang milik perseroan sebesar 6 juta ton hingga Juni 2026, turun 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kondisi tersebut berpotensi membaik setelah pemerintah menyetujui revisi kenaikan RKAB batu bara nasional pada Agustus 2026. UNTR juga telah memperoleh revisi kuota produksi batu bara, dari sebelumnya 7,5 juta ton menjadi 12,4 juta ton.
Namun, peningkatan kuota produksi belum sepenuhnya dapat diterjemahkan menjadi penjualan. UNTR menghadapi kendala logistik akibat rendahnya curah hujan yang menyebabkan ketinggian air sungai tidak mencukupi untuk dilalui kapal pengangkut batu bara.
Karena kendala tersebut, penjualan batu bara diperkirakan lebih rendah dari kuota produksi yang telah diperoleh. Dengan demikian, UNTR menargetkan penjualan batu bara termal dan metalurgi sebesar 4 juta ton pada semester II-2026, sedangkan sisa produksi akan dijual pada awal 2027.
Sementara itu, penjualan alat berat Komatsu juga turun 27 persen secara tahunan atau hanya mencatatkan penjualan sebanyak 1.994 unit.
Manajemen menjelaskan, pelanggan di segmen alat berat saat ini cenderung memprioritaskan optimalisasi alat yang telah dimiliki seiring meningkatnya kapasitas produksi. Investasi alat berat baru akan dilakukan setelah utilisasi seluruh alat yang tersedia mencapai tingkat optimal.
Meski permintaan masih menghadapi tekanan, UNTR masih mempertahankan target penjualan alat berat Komatsu sepanjang 2026 sebesar 4.000 unit.
"Perseroan terus memantau perkembangan permintaan alat berat ke depan, terutama setelah adanya revisi kenaikan RKAB batu bara nasional yang diharapkan dapat meningkatkan aktivitas pertambangan dan utilisasi alat berat," tutur manajemen.
Beban Naik, Laba Tertekan Faktor Non-Recurring
Dari sisi beban, kenaikan beban umum dan administrasi pada semester I-2026 terutama berkaitan dengan pembayaran non-recurring item terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan. Pembayaran ini berhubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di tambang nikel Stargate.
Sementara pos beban atau penghasilan lain-lain UNTR berubah signifikan. Pada semester I-2025, perseroan masih mencatat penghasilan bersih Rp755,9 miliar, sedangkan pada semester I-2026 berubah menjadi beban bersih Rp263,6 miliar.
Perubahan ini terutama disebabkan turunnya keuntungan dari pelepasan entitas anak dan investasi jangka panjang. Keuntungan dari pelepasan PT Piranti Jaya Utama mencapai Rp568,2 miliar pada semester I 2025, tetapi hanya Rp3 miliar pada periode yang sama tahun 2026.
Selain itu, keuntungan kurs sebesar Rp216,4 miliar pada semester I-2025 berbalik menjadi kerugian kurs Rp188,5 miliar pada semester I-2026.
Di sisi lain, hasil entitas asosiasi dan ventura bersama berbalik dari rugi menjadi laba pada Juni 2026. Perbaikan tersebut didorong oleh membaiknya kinerja Nickel Industries Limited.
Pada tahun sebelumnya, kerugian entitas asosiasi dan ventura bersama terutama disebabkan pengakuan impairment atas dua proyek rotary kiln electric furnace (RKEF) lama di Nickel Industries Limited.
Adapun rugi kepentingan nonpengendali terutama berasal dari pengakuan penurunan nilai investasi dan piutang non-usaha di SERD. Salah satu pemegang saham SERD adalah PT Supreme Energy Sriwijaya (SES), dengan kepemilikan UNTR sebesar 80,2 persen dan sisanya dimiliki pemegang saham nonpengendali.
"Rugi kepentingan nonpengendali tersebut merupakan bagian dari rugi kepentingan nonpengendali di SES," kata manajemen.
(DESI ANGRIANI)